MENU
Mojtaba Khamenei Naik Jadi Pemimpin Iran, Sinyal Perang Timur Tengah T...
WA FB
Berita

Mojtaba Khamenei Naik Jadi Pemimpin Iran, Sinyal Perang Timur Tengah Tak Akan Segera Berakhir

R Editor : Redaksi Sinata | 09 Mar 2026 | 17:50 WIB
Mojtaba Khamenei Naik Jadi Pemimpin Iran, Sinyal Perang Timur Tengah Tak Akan Segera Berakhir
Mojtaba Khamenei Naik Jadi Pemimpin Iran, Sinyal Perang Timur Tengah Tak Akan Segera Berakhir

Teheran, Sinata.id - Peta kekuasaan di Iran berubah drastis di tengah dentuman perang. Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu, sebuah langkah yang langsung dibaca banyak pihak sebagai sinyal bahwa konflik di Timur Tengah tidak akan segera mereda.

Penunjukan Mojtaba dilakukan oleh Majelis Ulama Iran tak lama setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam rangkaian serangan pada fase awal perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Keputusan itu membuat putra sang pemimpin lama kini memegang otoritas tertinggi dalam sistem politik Republik Islam Iran.

Langkah ini juga menandai momen yang belum pernah terjadi sejak Revolusi Iran 1979: kekuasaan tertinggi negara berpindah dari ayah ke anak dalam struktur yang sebelumnya menolak sistem dinasti.

Penunjukan Mojtaba tidak hanya soal suksesi kepemimpinan. Banyak analis melihat keputusan itu sebagai pesan politik yang jelas—Iran tidak berniat melunak di tengah tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.

Di dalam negeri, institusi negara segera menyatakan dukungan kepada pemimpin baru. Dewan pertahanan Iran bahkan menegaskan loyalitas penuh kepada Mojtaba.

“Kami akan mematuhi panglima tertinggi hingga tetes darah terakhir,” demikian pernyataan resmi yang dirilis otoritas pertahanan Iran, dikutip Senin (9/3/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa struktur militer dan politik Iran bergerak cepat untuk mengkonsolidasikan kekuasaan di tengah situasi perang yang semakin meluas.

Mojtaba Khamenei bukan nama asing di lingkaran elite Iran, meski selama ini jarang tampil di ruang publik. Ulama berusia 56 tahun itu dikenal memiliki hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) serta jaringan politik konservatif di negara tersebut.

Ia lahir pada 1969 di kota Mashhad dan sempat terlibat dalam fase akhir Perang Iran-Irak ketika masih muda. Selama puluhan tahun, Mojtaba berada di lingkaran kekuasaan ayahnya dan disebut memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan strategis negara.

Namun bagi sebagian pengamat, penunjukan ini juga kontroversial. Iran sejak awal berdiri sebagai republik teokratis yang menentang sistem monarki, sehingga munculnya suksesi ayah-anak memicu kritik tentang kemungkinan lahirnya dinasti politik baru di Tehran.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.