Keluarga para korban pun sudah mengikhlaskan, meski harus menerima kenyataan bahwa jasad anak-anak mereka mungkin ditemukan dalam kondisi tak utuh. “Seluruh keluarga sudah diberi penjelasan. Mereka merelakan, karena tanda-tanda kehidupan sudah tidak ada,” kata Suharyanto.
Tragedi musala ambruk saat santri sedang sujud ini meninggalkan luka mendalam bagi dunia pendidikan pesantren. Publik pun ramai mempertanyakan standar konstruksi bangunan, mengingat musala yang baru selesai dibangun justru menjadi kuburan massal bagi para santri yang tengah beribadah.
Bagi keluarga korban, sujud terakhir anak-anak mereka menjadi saksi bisu sekaligus pengingat betapa rapuhnya hidup manusia. Dari balik reruntuhan, kisah doa yang terhenti itu kini berubah menjadi duka yang akan dikenang selamanya. (A46)
sumber: sindonews | pikiranrakyat | detik
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.