Bandung, Sinata.id — Jagat media sosial mendadak panas. Nama Jigoku Ramen, yang selama ini identik dengan antrean panjang dan cita rasa ekstrem, tiba-tiba berubah jadi topik kontroversi. Bukan soal menu pedas atau cabang baru, melainkan dugaan penipuan berkedok investasi yang menyeret sosok di balik merek kuliner tersebut.
Api pertama muncul dari unggahan seorang warganet di platform Threads. Dalam hitungan jam, ceritanya menyebar lintas platform, memantik kemarahan, simpati, hingga kecurigaan publik. Unggahan itu menyebut adanya korban dengan kerugian fantastis—dari puluhan hingga ratusan juta rupiah—dalam skema investasi yang kini dipertanyakan keabsahannya.
“Dengar cerita korban yang rugi sampai ratusan juta bikin emosi. Ini bukan soal salah bisnis, tapi soal kepercayaan yang hancur,” tulis akun tersebut, kalimat yang kemudian dikutip ulang ribuan kali.
Sejak itu, kolom komentar berubah seperti ruang sidang digital. Nama Jigoku Ramen disebut-sebut, dipertanyakan, bahkan diseret ke berbagai teori liar. Netizen bertanya: apa benar bisnis kuliner ini ada kaitannya dengan investasi bermasalah?
Siapa Sosok di Balik Jigoku Ramen?
Di tengah kegaduhan, perhatian publik mengerucut pada satu figur: , pengusaha yang dikenal luas sebagai pendiri dan pemilik Jigoku Ramen. Nama yang sebelumnya lekat dengan cerita sukses dunia F&B, kini mendadak berada di pusaran isu serius.
Kresna dikenal merintis bisnis dari bawah. Ia lama berkecimpung di dunia kuliner sebelum Jigoku Ramen meledak dan menjadi salah satu ikon ramen lokal di Bandung. Reputasinya sebagai pengusaha kreatif bahkan kerap dijadikan inspirasi bagi pelaku UMKM.
Namun di media sosial, narasi itu kini berbalik arah. Sejumlah akun mempertanyakan apakah investasi yang ditawarkan benar-benar terpisah dari bisnis ramen, atau justru memanfaatkan nama besar yang sudah telanjur dipercaya publik.
Yang membuat isu ini semakin liar: tidak ada klarifikasi langsung. Akun media sosial yang selama ini aktif memamerkan aktivitas bisnis, terlihat sepi. Tidak ada pernyataan resmi, tidak ada bantahan terbuka, tidak pula penjelasan detail.
Kekosongan informasi itu justru menjadi bensin. Netizen menebak-nebak. Ada yang membela, menyebut semua masih sebatas tuduhan. Ada pula yang mendesak korban melapor ke polisi agar kasus ini tidak berhenti sebagai drama media sosial.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.