Tubuh mungilnya ditemukan paling akhir.
Satu-satunya yang Selamat
Poliman Lumbantobing (37), satu-satunya dari keluarga itu yang masih hidup, sedang berada di luar kota untuk bekerja sebagai sopir angkutan.
Saat telepon berdering pagi itu, ia mungkin berharap kabar biasa.
Namun yang menantinya adalah kenyataan yang meruntuhkan dunia, rumahnya tertimbun, istri dan anak-anaknya meninggal dunia.
Ia tiba beberapa jam kemudian.
Tidak untuk memeluk keluarga, melainkan untuk menatap empat jenazah yang berjejer rapi di rumah kerabat.
Isak keras pecah ketika ia menyentuh kaca peti anak bungsunya.
Warga hanya bisa berdiri, tak sanggup berkata-kata.
Evakuasi yang Senyap, Tanah Setinggi Paha, dan Hujan yang Tak Mau Berhenti
Bhabinkamtibmas Aipda Rindu Hutabarat memimpin evakuasi dibantu puluhan warga.
Lumpur setinggi paha, dinding rumah yang hampir roboh, dan hujan yang turun kembali membuat momen itu berlangsung tanpa suara.
Tidak ada teriakan panik, hanya komando pendek dan doa yang menggantung di udara.
Setiap kali satu jenazah terangkat dari tanah, suasana hening berubah menjadi isak tertahan.
Warga menutupi wajah, sebagian menunduk sambil menggenggam tangan tetangga, memastikan diri tetap kuat di tengah tragedi.
Lanjutkan Membaca: 2 Begal Belawan Tumbang Ditembak Polisi
Tapteng Dilanda Bencana Beruntun
Longsor yang menelan satu keluarga di Mardame ini terjadi bersamaan dengan puluhan titik banjir dan longsor lain yang mengisolasi banyak desa di Badiri, Lumut, Sarudik, Pinangsori, Pandan, Tukka, Sibabangun, Tapian Nauli, dan Kolang.
Hujan yang turun nyaris tanpa henti memicu luapan sungai, runtuhan tebing, serta memutus akses antarwilayah.
Namun dari semua laporan yang masuk, tragedi Mardame menjadi luka terdalam. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.