MENU
Pakar Ingatkan Risiko Gawai pada Anak
WA FB
Nasional

Pakar Ingatkan Risiko Gawai pada Anak

T Editor : Tumpal Pandapotan | 18 Mar 2026 | 15:41 WIB
Pakar Ingatkan Risiko Gawai pada Anak
ilustrasi

Jakarta, Sinata.id - Penggunaan gawai dan media sosial pada anak perlu diatur sebagai langkah pencegahan terhadap risiko gangguan kesehatan dan perkembangan, termasuk potensi hambatan pada fungsi otak dan sistem saraf, menurut para pakar dalam diskusi terkait kebijakan perlindungan anak di ruang digital di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Dokter anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tuty Herawati, menyampaikan bahwa dampak penggunaan gawai tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi sistem saraf jika terjadi secara berlebihan, terutama pada usia anak yang masih dalam fase pertumbuhan krusial antara lima hingga 15 tahun.

“Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan,” ujar Tuty Herawati.

Ia menjelaskan, risiko gangguan pada anak dipengaruhi oleh durasi penggunaan, intensitas paparan, serta keseimbangan dengan aktivitas lain seperti olahraga dan interaksi di luar ruangan. Anak yang memiliki aktivitas fisik dan sosial yang cukup dinilai memiliki risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang terpapar layar secara terus-menerus tanpa pengawasan.

Selain itu, Tuty menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengatur pola penggunaan gawai secara konsisten melalui edukasi yang berkelanjutan. Menurutnya, pendekatan komunikasi yang tepat diperlukan agar orang tua memahami bahwa pengaturan tersebut bertujuan melindungi kesehatan anak dalam jangka panjang.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, yang menyoroti dampak paparan konten digital yang terbatas dan berulang terhadap perkembangan otak anak, khususnya pada masa awal pertumbuhan atau golden age.

Rose menjelaskan, kurangnya variasi stimulasi dapat menghambat pembentukan koneksi antarsaraf yang berperan dalam kemampuan kognitif, kreativitas, dan keterampilan sosial. Kondisi ini dapat terjadi ketika anak terlalu sering mengakses jenis konten yang sama, seperti gim atau tayangan berulang, tanpa diimbangi pengalaman lain di dunia nyata.

Ia menambahkan, stimulasi yang beragam melalui interaksi sosial, aktivitas fisik, dan eksplorasi lingkungan menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan otak secara optimal.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.