MENU
Partai Kecoak Viral di India, Gerakan Satir Gen Z Meledak Usai Komenta...
WA FB
Dunia

Partai Kecoak Viral di India, Gerakan Satir Gen Z Meledak Usai Komentar Ketua MA

J Editor : Jansen Siahaan | 21 May 2026 | 14:20 WIB
Partai Kecoak Viral di India, Gerakan Satir Gen Z Meledak Usai Komentar Ketua MA
Kemunculan Partai Kecoa di India. (istimewa)

New Delhi, Sinata.id – Dunia politik India mendadak dihebohkan dengan kemunculan gerakan satir bernama Cockroach Janata Party atau Partai Rakyat Kecoak. Gerakan yang awalnya muncul sebagai lelucon di media sosial itu kini berkembang menjadi simbol perlawanan generasi muda terhadap situasi politik dan sosial di India.

Fenomena tersebut bermula setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, melontarkan pernyataan kontroversial dalam sebuah persidangan pada 15 Mei 2026.

Dalam sidang tersebut, Surya Kant mengkritik sejumlah pemuda India yang dianggap tidak memiliki pekerjaan dan menyamakan sebagian dari mereka dengan “kecoak”.

“Ada anak-anak muda seperti kecoak yang tidak mendapatkan pekerjaan. Beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI, lalu menyerang semua orang,” ujarnya.

Pernyataan itu langsung memicu kemarahan publik, terutama kalangan Generasi Z India yang saat ini menghadapi tingginya angka pengangguran, inflasi, dan polarisasi sosial-politik.

Gerakan ini kemudian dipelopori oleh Abhijeet Dipke, seorang lulusan hubungan masyarakat dari Boston University yang mendirikan akun media sosial serta platform daring Cockroach Janata Party sebagai bentuk sindiran terhadap elit politik India.

“Hari ini mereka menganggap warga negara seperti kecoak dan parasit,” ujar Dipke.

“Hama kecoak berkembang di tempat yang busuk, dan seperti itulah kondisi India saat ini,” lanjutnya.

Dalam waktu singkat, akun Instagram Cockroach Janata Party mengalami lonjakan pengikut secara drastis. Pada Selasa (19/5/2026) malam, jumlah pengikutnya telah mencapai lebih dari satu juta akun dan terus melonjak hingga menembus empat juta pengikut hanya dalam beberapa jam.

Tak hanya viral di media sosial, gerakan tersebut juga menarik perhatian tokoh oposisi dan mantan birokrat India yang ikut menyatakan dukungan secara terbuka.

Mantan birokrat federal India, Ashish Joshi, mengaku ikut bergabung karena menilai masyarakat India selama satu dekade terakhir hidup dalam suasana penuh ketakutan untuk menyuarakan kritik.

“Dalam satu dekade terakhir, banyak orang takut berbicara di negara ini,” ujarnya.

Gerakan satir tersebut juga menyindir pemerintahan Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang selama ini kerap menyebut India sebagai “vishwaguru” atau pemimpin global.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.