Melaporkan aktivis ke polisi justru menimbulkan kesan bahwa kekuasaan lebih memilih menghadapi suara rakyat dengan ketakutan, bukan dengan dialog. Padahal demokrasi tumbuh dari keberanian pemerintah mendengar, bukan dari keberhasilan membungkam.
Pakpak Bharat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya hadir saat upacara dan acara formal. Daerah ini memerlukan pemimpin dengan telinga untuk mendengar, mata untuk melihat persoalan rakyat, dan hati untuk mengakui kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki diri.
Sebab pada akhirnya, kursi kekuasaan hanyalah titipan. Yang berdaulat tetap rakyat. Dan suara rakyat tidak boleh diperlakukan seperti ancaman.
Kritik bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengingatkan. Bila kritik dibungkam, sejarah akan mencatat bukan kehebatan kekuasaan, melainkan ketakutannya.
Salam literasi. Mari kawal demokrasi dengan suara yang jernih. (A27)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.