MENU
Pemkot Jogja Resmi Larang Bentor dan Maxride Demi Marwah Budaya
WA FB
Regional

Pemkot Jogja Resmi Larang Bentor dan Maxride Demi Marwah Budaya

R Editor : Redaksi Sinata | 18 Nov 2025 | 18:09 WIB
Pemkot Jogja Resmi Larang Bentor dan Maxride Demi Marwah Budaya
Bajaj. (Dok. Sinata.id)

Sinata.id - Pemerintah Kota Yogyakarta resmi menarik rem darurat bagi bentor dan layanan transportasi roda tiga modern seperti Maxride. Kebijakan yang diumumkan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, pada Senin (17/11/2025), menjadi penegasan bahwa Kota Gudeg tak ingin identitas transportasi tradisionalnya tergerus modernisasi yang dianggap tidak selaras dengan budaya lokal.

Di hadapan warga Kelurahan Patangpuluhan, Wirobrajan, Hasto menjelaskan bahwa keputusan ini bukan langkah mendadak.

Pemkot terlebih dahulu mengantongi restu Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, melalui proses konsultasi resmi.

Arahan tertulis dari Sultan menjadi landasan munculnya surat edaran penghentian operasional kendaraan roda tiga non-tradisional.

“Setelah mendapatkan arahan tertulis dari Pak Gubernur, barulah kami mengeluarkan surat edaran tentang larangan operasional ini,” tegas Hasto.

Ia menegaskan, bukan mobilitas masyarakat yang dibatasi, tetapi marwah budaya yang harus dijaga.

Becak dan andong, dua moda transportasi yang sejak lama merepresentasikan wajah Yogyakarta, disebutnya perlu tetap diberi ruang untuk bertahan di tengah gempuran teknologi.

“Becak dan andong adalah identitas kota ini. Transportasi berbasis budaya yang harus kita jaga keberadaannya,” ujarnya.

Larangan ini tidak hanya menyasar bentor, tetapi juga Maxride, moda bajaj online yang belakangan banyak beroperasi.

Hasto bahkan balik bertanya kepada publik, apakah Maxride layak disebut sebagai alat transportasi tradisional khas Jogja.

“Ini bukan cuma bentor. Maxride itu juga roda tiga. Kita menguri-uri transportasi tradisional. Apa Maxride itu ciri khas Jogja?” katanya.

Agar pengemudi bentor tidak kehilangan penghasilan, Pemkot menawarkan jalan keluar, yakni konversi dari bentor berbahan bakar minyak menjadi bentrik, becak motor berbasis listrik.

Pemkot bahkan telah mengusulkan anggaran untuk pengadaan mesin listrik agar dapat disalurkan kepada para pengemudi.

“Tor-nya diganti listrik. Dari bentor jadi bentrik. Anggarannya sudah kami usulkan,” jelas Hasto.

Pemkot Yogyakarta berharap transformasi ini tak hanya menjaga kelestarian budaya, tetapi juga mendukung upaya membangun kota yang lebih ramah lingkungan.

“Kita menjaga budaya melalui keberlanjutan becak dan andong, bukan membuka ruang bagi kendaraan roda tiga modern,” tutupnya.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.