MENU
Penyintas Bencana Tapteng Desak Pemerintah Pusat Segera Cairkan Bantua...
WA FB
Regional

Penyintas Bencana Tapteng Desak Pemerintah Pusat Segera Cairkan Bantuan

J Editor : Jansen Siahaan | 04 Mar 2026 | 22:35 WIB
Penyintas Bencana Tapteng Desak Pemerintah Pusat Segera Cairkan Bantuan
Tulus Parlindungan Sihombing di biliknya Huntara Pinangsori. (sinata)

Tapteng, Sinata.id— Ratusan keluarga penyintas bencana di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Bencana hidrometeorologi yang terjadi tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghancurkan sumber mata pencaharian mereka.

Salah seorang penyintas di Tapteng, Tulus Parlindungan Sihombing, bersama 46 keluarga lainnya kini menghuni hunian sementara (huntara) di Pinangsori. Rumah mereka di Desa Pagaran Honas, Kecamatan Badiri, rusak akibat banjir bandang dan tanah longsor pada 25 November 2025.

Pada masa awal pascabencana, warga Desa Pagaran Honas, Lubuk Ampolu, dan sekitarnya tinggal di tenda pengungsian di Kebun Pisang. Saat itu, dapur umum masih beroperasi dan menyediakan makanan tiga kali sehari bagi para pengungsi.

Namun, sebulan kemudian mereka direlokasi ke Huntara Pinangsori, tepatnya di Asrama Haji Pinangsori, Kelurahan Sitonong Bangun, Kecamatan Pinangsori. Di lokasi tersebut, dapur umum tidak lagi tersedia sehingga para penyintas harus memenuhi kebutuhan makan secara mandiri.

Tulus mengaku kondisi tersebut membuatnya hampir putus asa. Sejak kebunnya tertimbun longsor, ia kehilangan mata pencaharian.

“Dulu saya berdagang hasil kebun warga. Sekarang tidak ada lagi yang bisa diusahakan, modal pun tidak ada,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Ia kini tinggal bersama istri dan satu anaknya di bilik berukuran 4x4 meter. Di ruangan itu terdapat kasur, bantal, tumpukan pakaian, rak piring, serta perlengkapan memasak yang sekaligus difungsikan sebagai dapur.

Meski bersyukur masih memiliki tempat berteduh, Tulus mengaku terpukul ketika anaknya meminta uang jajan sekolah.

“Untung saja sekolahnya sudah dipindahkan lebih dekat. Kalau tidak, bagaimana biaya ongkosnya,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, terutama selama Ramadan, ia terpaksa berutang.

“Saya pengangguran, jadi terpaksa berutang untuk makan. Entah bagaimana nanti melunasinya,” tuturnya.

Menurutnya, kondisi serupa juga dialami penghuni huntara lainnya yang mayoritas berprofesi sebagai petani karet, durian, dan hasil kebun lain. Jika ada bantuan dari donatur, bantuan tersebut harus dibagi rata. Jika tidak ada, mereka hanya bisa bersabar.

Sebagai Ketua BKM setempat, Tulus berharap pemerintah pusat segera merealisasikan bantuan jaminan hidup bagi para penyintas.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.