Jakarta, Sinata.id — Ketegangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini merembet jauh melampaui medan tempur. Dampaknya mulai terasa di sektor pertanian global.
Gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah membuat pasokan pupuk dunia terguncang, memicu lonjakan harga dan memaksa petani di berbagai negara berlomba mengamankan nutrisi penting bagi tanaman mereka.
Di tengah ketidakpastian ini, sejumlah petani bahkan mengaku harus membeli pupuk dengan harga jauh lebih mahal dibanding biasanya demi memastikan musim tanam tetap berjalan.
“Kami mengambil apa yang kami butuhkan, ini harga tertinggi yang pernah saya bayar,” ujar seorang petani, Edinger, dikutip Jumat (6/3/2026).
Pasokan Pupuk Global Terganggu
Konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran serius karena wilayah tersebut merupakan salah satu pusat produksi dan jalur distribusi penting bagi bahan baku pupuk dunia.
Gangguan terhadap aktivitas industri, jalur perdagangan, maupun energi di kawasan itu berpotensi menghentikan produksi pupuk berbasis nitrogen dan amonia—komponen vital bagi pertanian modern.
Para analis memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan bisa mengguncang pasar pupuk global. Sebab, industri ini tidak memiliki cadangan strategis seperti minyak. Sebagian besar perdagangan pupuk berjalan dengan sistem pasokan tepat waktu (just-in-time) yang sangat sensitif terhadap gangguan geopolitik.
Selat Hormuz Jadi Titik Rawan
Kekhawatiran semakin besar karena jalur pelayaran penting di kawasan itu ikut terancam. Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global, menjadi salah satu titik kritis perdagangan komoditas energi dan pupuk.
Para ahli memperkirakan sekitar seperempat perdagangan pupuk dunia melewati jalur tersebut, sehingga setiap gangguan di wilayah itu bisa langsung memicu lonjakan harga di pasar internasional.
Jika jalur ini terganggu, distribusi pupuk ke berbagai negara pengimpor—mulai dari Asia hingga Amerika—berpotensi tersendat.
Harga Melonjak, Petani Tertekan
Kenaikan harga pupuk langsung berdampak pada biaya produksi pertanian. Dalam beberapa hari terakhir saja, harga pupuk nitrogen di beberapa pelabuhan utama dunia dilaporkan naik signifikan dibanding pekan sebelumnya.
Lonjakan ini membuat banyak petani berada dalam dilema: tetap membeli pupuk mahal agar produksi tidak turun, atau mengurangi pemakaian pupuk dengan risiko panen lebih rendah.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.