Oleh: Prof. Dr. Hoga Saragih, S.T., M.T., S.Th., M.Th., D.Th., CIRR, IPU (Anggota Dewan Pakar SOKSI)
Saya selesai menonton film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dengan satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya:
Mengapa bangsa yang begitu kaya sumber daya alam justru terus bergulat dengan kemiskinan, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik pertanyaan tersebut tersembunyi salah satu persoalan terbesar pembangunan Indonesia pada abad ke-21.
Film ini bukan sekadar bercerita tentang Papua. Film ini berbicara tentang wajah pembangunan modern. Film ini mengulas relasi antara negara, korporasi, masyarakat adat, kekuasaan, dan sumber daya alam. Film ini juga mengajak publik mempertanyakan siapa yang memperoleh keuntungan dan siapa yang harus menanggung dampaknya.
Yang paling penting, film ini memaksa kita bertanya:
Apakah pembangunan yang menghancurkan alam masih layak disebut pembangunan?
Mitos Pertumbuhan Ekonomi yang Jarang Dipertanyakan
Selama puluhan tahun, masyarakat diajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan indikator utama kemajuan.
Ketika investasi meningkat, kita bersorak. Ketika ekspor naik, kita bertepuk tangan. Ketika produk domestik bruto (PDB) bertambah, kita merasa berhasil.
Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan:
Bertumbuh untuk siapa?
Apakah pertumbuhan tersebut benar-benar dinikmati oleh rakyat? Apakah pertumbuhan itu memperkuat lingkungan hidup? Apakah pertumbuhan tersebut meningkatkan kualitas hidup generasi berikutnya?
Ataukah pertumbuhan itu hanya memperbesar angka statistik tanpa meningkatkan kesejahteraan yang sesungguhnya?
Film Pesta Babi mengingatkan bahwa tidak semua pertumbuhan menghasilkan kemajuan. Ada pertumbuhan yang justru melahirkan kemunduran ekologis, menciptakan kemiskinan baru, menghilangkan ruang hidup masyarakat, dan memindahkan kekayaan dari banyak orang kepada segelintir pihak.
Kolonialisme Modern Hadir dengan Wajah Berbeda
Ketika mendengar istilah kolonialisme, banyak orang membayangkan kapal perang, tentara asing, dan penjajahan di masa lalu.
Namun, kolonialisme modern sering hadir dalam bentuk yang berbeda.
Ia datang membawa proposal investasi. Ia datang dengan janji pembangunan. Ia datang melalui laporan ekonomi dan jargon kemajuan.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.