Meski demikian, substansinya tetap sama, yaitu mengambil sumber daya dari suatu wilayah demi kepentingan yang lebih besar di tempat lain.
Saat ini, kolonialisme tidak selalu berbentuk pendudukan wilayah. Ia kerap hadir melalui penguasaan ekonomi, penguasaan lahan, penguasaan rantai produksi, penguasaan pasar, dan penguasaan sumber daya alam.
Akibatnya, masyarakat lokal sering kali hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri.
Ketika Nilai Uang Mengalahkan Nilai Kehidupan
Salah satu persoalan utama pembangunan modern adalah kecenderungan mengukur segala sesuatu berdasarkan nilai ekonomi.
Hutan dinilai dari harga kayunya. Tanah dihitung berdasarkan nilai investasinya. Sungai diukur dari potensi industrinya.
Padahal, nilai kehidupan jauh lebih besar daripada nilai uang.
Hutan tidak hanya menghasilkan kayu. Hutan menghasilkan air, udara bersih, menjaga iklim, menyimpan karbon, melindungi keanekaragaman hayati, serta menopang kehidupan manusia.
Jika seluruh manfaat tersebut dihitung secara jujur, maka banyak proyek yang tampak menguntungkan sesungguhnya dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar.
Dalam konteks ini, ekonom ekologis Herman Daly mengingatkan bahwa ekonomi harus menjadi bagian dari ekologi, bukan sebaliknya.
Kita tidak bisa terus memperlakukan bumi sebagai gudang bahan baku yang tidak terbatas. Bumi memiliki batas, dan ketika batas itu dilampaui, krisis akan datang.
Tagihan Lingkungan yang Tidak Pernah Masuk Neraca
Laporan keuangan perusahaan biasanya mencatat biaya alat berat, biaya produksi, biaya tenaga kerja, hingga biaya distribusi.
Namun, sering kali tidak mencatat:
Hilangnya hutan primer.
Hilangnya satwa liar.
Hilangnya budaya lokal.
Hilangnya mata pencaharian tradisional.
Hilangnya ketahanan ekologis.
Ekonom Nicholas Georgescu-Roegen menyebut kondisi ini sebagai konsekuensi entropi. Setiap aktivitas ekonomi selalu menghasilkan kehilangan yang tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.
Kita mungkin memperoleh keuntungan hari ini, tetapi anak cucu kita yang akan membayar tagihannya di masa depan.
Papua dan Pertanyaan Moral Bangsa
Film ini pada akhirnya membawa kita pada pertanyaan moral yang sangat mendasar.
Jika pembangunan membuat sebagian orang kaya tetapi membuat sebagian lainnya kehilangan tanah dan masa depan, apakah itu adil?
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.