MENU
Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita Ketika Hutan Dijual, Siapa yan...
WA FB
News

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita Ketika Hutan Dijual, Siapa yang Sebenarnya Menjadi Kaya?

J Editor : Jansen Siahaan | 02 Jun 2026 | 17:40 WIB
Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita  Ketika Hutan Dijual, Siapa yang Sebenarnya Menjadi Kaya?
Prof. Dr. Hoga Saragih, S.T., M.T., S.Th., M.Th., D.Th., CIRR, IPU. (istimewa)

Jika investasi menghasilkan keuntungan tetapi menghancurkan warisan ekologis bangsa, apakah itu bijaksana?

Jika kemajuan ekonomi harus dibayar dengan hilangnya hutan tropis terakhir Indonesia, apakah itu layak?

Pertanyaan tersebut tidak hanya berlaku untuk Papua. Pertanyaan yang sama juga relevan bagi Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan berbagai wilayah lain yang menghadapi tekanan eksploitasi sumber daya alam.

Pancasila sebagai Kompas Pembangunan Nasional

Para pendiri bangsa sejatinya telah memberikan arah yang jelas.

Pancasila tidak pernah mengajarkan pembangunan yang mengorbankan manusia. Pancasila juga tidak pernah mengajarkan pembangunan yang merusak alam demi kepentingan sesaat.

Sila Kelima berbunyi:

"Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia."

Bukan keadilan bagi pemilik modal. Bukan keadilan bagi kelompok tertentu. Bukan pula keadilan hanya bagi generasi saat ini.

Melainkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk generasi yang belum lahir.

Hal tersebut juga ditegaskan dalam Pasal 33 UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Bukan untuk mempercepat kerusakan lingkungan, memperbesar ketimpangan, atau memperkaya segelintir elite.

Indonesia Memerlukan Paradigma Pembangunan Baru

Sudah saatnya Indonesia mengubah cara mengukur keberhasilan pembangunan.

Keberhasilan tidak boleh hanya dihitung dari pertumbuhan ekonomi semata. Keberhasilan juga harus diukur dari:

Kualitas lingkungan hidup.

Kesejahteraan masyarakat.

Pemerataan manfaat pembangunan.

Keberlanjutan sumber daya alam.

Perlindungan masyarakat lokal dan adat.

Ketahanan generasi mendatang.

Indonesia memerlukan pembangunan yang menghitung nilai modal alam, menghargai jasa ekosistem, mendengarkan masyarakat adat, dan memandang hutan sebagai aset kehidupan, bukan sekadar objek eksploitasi.

Penutup: Indonesia Seperti Apa yang Akan Diwariskan?

Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita bukan sekadar film dokumenter.

Film ini adalah cermin. Film ini adalah peringatan. Film ini adalah pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh bangsa Indonesia.

Ketika seluruh sumber daya telah dieksploitasi, ketika seluruh hutan telah dibuka, dan ketika seluruh keuntungan telah dinikmati, maka pertanyaan terakhir yang tersisa adalah:

Indonesia seperti apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita?

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukanlah seberapa cepat ia menghabiskan kekayaannya, melainkan seberapa bijaksana ia menjaga warisan alamnya untuk masa depan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.