Teheran, Sinata.id - Australia dan Prancis meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah dengan mengerahkan pesawat pengintai, rudal, serta kapal perang menyusul meningkatnya ketegangan konflik antara United States dan Israel melawan Iran. Langkah ini dilakukan untuk mendukung operasi pertahanan sekutu dan menjaga stabilitas keamanan di wilayah tersebut.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada Selasa (10/3/2026) menyatakan pemerintahnya akan mengirim pesawat pengintai militer serta sejumlah rudal udara-ke-udara ke United Arab Emirates.
Pengerahan itu dimaksudkan untuk membantu negara tersebut menghadapi potensi ancaman serangan yang berkaitan dengan eskalasi konflik regional.
Menurut Albanese, aset militer yang dikerahkan akan beroperasi dalam kerangka pertahanan kolektif dan bukan untuk melakukan operasi ofensif terhadap Iran. Pemerintah Australia juga menegaskan tidak menempatkan pasukan di wilayah Iran.
Keputusan ini disampaikan setelah Albanese melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan serta Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (9/3/2026).
Dalam percakapan itu mereka membahas situasi keamanan yang memburuk di kawasan Timur Tengah sejak konflik bersenjata pecah pada 28 Februari lalu.
Sekitar 85 personel militer Australia dijadwalkan berangkat ke kawasan tersebut pada pertengahan pekan ini dan diperkirakan mulai menjalankan operasi pada akhir pekan.
Salah satu aset yang akan dikerahkan adalah pesawat peringatan dini Boeing E‑7 Wedgetail yang dilengkapi radar pengawasan jarak jauh serta sistem komunikasi udara untuk mendukung pemantauan dan koordinasi operasi militer. Pesawat itu akan ditempatkan di UEA selama sekitar empat pekan.
Pemerintah Australia menyebut pengerahan tersebut juga berkaitan dengan upaya melindungi warganya yang berada di kawasan Timur Tengah.
Data pemerintah menunjukkan sekitar 115.000 warga Australia berada di wilayah tersebut, termasuk sekitar 24.000 orang yang tinggal di UEA. Kementerian Luar Negeri Australia menyatakan lebih dari 27.000 warga negaranya telah kembali dari kawasan itu sejak konflik meningkat.
Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengumumkan pengerahan belasan kapal angkatan laut ke kawasan Laut Merah.
Armada tersebut mencakup delapan kapal perang, kelompok kapal induk, serta dua kapal induk helikopter yang akan mendukung misi pengamanan jalur pelayaran internasional.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.