Jakarta, Sinata.id - Perombakan struktur di tubuh Tentara Nasional Indonesia kembali menghadirkan nama baru yang menjadi sorotan. Sosok Letnan Jenderal TNI Bambang Trisnohadi kini dipercaya menempati jabatan strategis yang dikenal sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI, posisi yang lama tidak aktif dalam struktur organisasi militer Indonesia.
Penunjukan perwira tinggi Angkatan Darat tersebut langsung menarik perhatian karena jabatan ini sebelumnya pernah dihapus sejak era reformasi militer awal 2000-an. Kini, pos tersebut kembali dihidupkan sebagai bagian dari penyesuaian struktur pertahanan menghadapi dinamika ancaman baru.
Jenderal Infanteri Berprestasi
Letjen Bambang Trisnohadi bukan nama baru di lingkungan militer. Ia lahir di Jakarta pada 26 Februari 1972 dan merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) angkatan 1993. Pada tahun kelulusannya, ia meraih penghargaan Adhi Makayasa, predikat bagi taruna terbaik yang dinilai dari kemampuan akademik, fisik, dan kepribadian.
Perwira dari kecabangan infanteri Kopassus ini dikenal memiliki rekam jejak panjang di berbagai posisi strategis, mulai dari komando lapangan hingga jabatan perumus kebijakan pertahanan.
Karier Militer dari Pengawal Presiden hingga Panglima Komando Operasi
Perjalanan karier Bambang terbilang lengkap. Pada awal masa tugasnya, ia sempat dipercaya berada di lingkar pengamanan presiden sebagai Dandenwalpri Grup A Paspampres.
Setelah itu, kariernya terus menanjak dengan sejumlah jabatan penting, di antaranya:
Komandan Batalyon Infanteri 315/Garuda Komandan Korem 121/Alambhana Wanawai Kepala Staf Kodam XVII/Cenderawasih Direktur Jenderal Strategi Pertahanan di Kementerian Pertahanan Panglima Kodam IX/Udayana Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III
Posisi terakhir sebagai Pangkogabwilhan III menempatkannya memimpin operasi pertahanan di kawasan timur Indonesia, termasuk wilayah Papua dan Maluku, yang memiliki nilai strategis bagi keamanan nasional.
Jabatan Lama yang Dihidupkan Kembali
Penunjukan Bambang sebagai Kaster TNI menjadi sorotan karena jabatan tersebut sebelumnya pernah dibubarkan sekitar dua dekade lalu dalam rangka reformasi militer dan penghapusan peran teritorial yang terlalu dominan.
Kini, posisi itu kembali dimunculkan untuk memperkuat koordinasi pembinaan teritorial TNI di seluruh wilayah Indonesia. Sejumlah pengamat militer menilai langkah ini dapat diartikan sebagai adaptasi TNI menghadapi bentuk ancaman baru yang semakin kompleks, mulai dari konflik hibrida hingga keamanan non-militer. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.