MENU
Ratusan Hektare Sawah di Panei-Simalungun Kekeringan, Petani Gagal Tan...
WA FB
Simalungun

Ratusan Hektare Sawah di Panei-Simalungun Kekeringan, Petani Gagal Tanam

G Editor : Gunawan Purba | 27 Mar 2026 | 13:44 WIB
Ratusan Hektare Sawah di Panei-Simalungun Kekeringan, Petani Gagal Tanam
Lahan pertanian sawah di Panei kekeringan

Simalungun, Sinata.id - Sekitar 150 hektare lahan persawahan di Dusun Bah Ruksi dan Dusun Sabah II, Nagori Pematang Pane, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mengalami kekeringan sejak awal tahun 2026. Kondisi tersebut mengakibatkan petani tidak dapat melaksanakan masa tanam.

Ketua Kelompok Tani Fitofit Mujur, Kristal Sembiring, menyampaikan bahwa pasokan air ke area persawahan terhenti sejak Januari 2026. Dampaknya, tanah sawah mengering dan retak sehingga tidak memungkinkan untuk ditanami padi.

“Sejak awal tahun tidak ada aliran air masuk ke sawah. Kondisi lahan menjadi kering dan tidak bisa diolah,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Dusun Bah Ruksi, Jumat (27/3/2026).

Menurutnya, warga telah melakukan penelusuran terhadap penyebab kekeringan tersebut. Dari hasil pengamatan di lapangan, diduga terjadi perubahan aliran air dari sumber umbul di wilayah Dusun Aek Nauli, Kecamatan Panei.

Katanya, aliran yang sebelumnya mengairi saluran irigasi primer dan sekunder diduga dialihkan untuk kebutuhan sumber air perusahaan daerah.

Warga juga menemukan adanya pembangunan struktur permanen di sekitar sumber air tersebut yang menyebabkan aliran air tidak lagi mengalir ke jaringan irigasi pertanian.

Kondisi tersebut telah dilaporkan masyarakat kepada pemerintah setempat. Kepala Desa (Pangulu) Pematang Pane, Jhonsidi Hutasoit, membenarkan adanya laporan warga terkait perubahan fungsi sumber air tersebut.

Hal serupa disampaikan Camat Panombean Panei, Lina Damanik. Ia mengakui adanya dugaan pengalihan fungsi sumber air yang berdampak pada kebutuhan irigasi pertanian masyarakat.

“Kami akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat kabupaten untuk menindaklanjuti persoalan ini,” ujarnya.

Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengembalikan fungsi aliran air seperti semula. Pasalnya, sebagian besar warga di wilayah tersebut bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber utama penghidupan.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak pada keberlangsungan ekonomi masyarakat setempat.

Persoalan distribusi air irigasi menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Diperlukan penanganan cepat dan terukur agar aktivitas pertanian masyarakat tidak terus terganggu. (TP)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.