Sinata.id - Rupiah kembali berada di bawah sorotan tajam pasar keuangan setelah sepanjang 2025 bergerak di zona tekanan, bahkan sempat menyentuh Rp16.865 per dolar AS, level terendah dalam satu dekade, di tengah kombinasi gejolak geopolitik global dan melemahnya fondasi ekonomi domestik yang memicu kekhawatiran tentang arah nilai tukar pada 2026.
Pada 9 April lalu, nilai tukar sempat terperosok ke Rp16.865 per dolar AS, menyentuh titik terlemah dalam 10 tahun dan memantik kekhawatiran baru tentang arah ekonomi Indonesia selanjutnya.
Fluktuasi ekstrem ini mengingatkan publik pada gejolak serupa saat pandemi Covid-19.
Ketika dunia terkunci pada Maret 2020, mata uang Indonesia sempat runtuh ke Rp16.575/US$, melonjak lebih dari 15% hanya dalam hitungan minggu akibat kepanikan pasar dan terhentinya aktivitas ekonomi nasional.
Kini, lima tahun berselang, situasi berbeda namun tekanannya terasa sama.
Apakah rupiah akan menemukan titik balik pada tahun berikutnya, atau justru menetap pada level yang lebih lemah sebagai “keseimbangan baru”?
Tekanan Domestik Menguat, Kelas Menengah Tergerus
Tidak seperti asumsi banyak pihak, pelemahan rupiah tahun ini tidak hanya disebabkan gejolak luar negeri.
Di dalam negeri, berbagai indikator ekonomi menunjukkan sinyal lampu kuning.
Sektor manufaktur masih dilanda gelombang PHK, mengerek jumlah pengangguran menjadi 7,46 juta orang per Agustus 2025.
Pada saat yang sama, dominasi pekerja informal menembus 86,56 juta orang, atau 59,40% dari total tenaga kerja, menandakan rentannya kualitas pekerjaan dan daya beli masyarakat.
Tekanan kian terasa ketika 9,4 juta penduduk kelas menengah turun kasta menjadi kelompok “calon kelas menengah” sepanjang 2019–2024.
Proporsi kelas menengah yang dulu mencapai 21,45%, kini menyusut ke 17,85%.
Dengan menyempitnya tulang punggung konsumsi rumah tangga, mesin utama pertumbuhan ekonomi pun kehilangan tenaga.
Fiskal Makin Ketat, Cadangan Devisa Belum Menenangkan Pasar
Di sisi fiskal, ruang pemerintah tidak seleluasa sebelumnya.
Neraca Pembayaran Indonesia membengkak, mencatat defisit US$6,4 miliar pada kuartal III-2025.
Cadangan devisa sebesar US$148,7 miliar memang tergolong aman, namun dibanding negara kawasan yang memiliki bantalan jauh lebih besar, pasar menilai ketahanan Indonesia masih belum cukup kokoh.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.