MENU
Rupiah Terancam Terus Melemah, Ekonom INDEF: Level Rp17.000 per Dolar...
WA FB
Berita

Rupiah Terancam Terus Melemah, Ekonom INDEF: Level Rp17.000 per Dolar Jadi Alarm Serius

R Editor : Redaksi Sinata | 09 Mar 2026 | 21:44 WIB
Rupiah Terancam Terus Melemah, Ekonom INDEF: Level Rp17.000 per Dolar Jadi Alarm Serius
Ilustrasi. (Ist)

Jakarta, Sinata.id — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Di tengah gejolak ekonomi global yang semakin tidak pasti, para ekonom menilai mata uang Indonesia berpotensi terus bergerak di bawah tekanan pasar.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan, memperingatkan bahwa dinamika global saat ini membuat investor semakin berhati-hati dan cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut berisiko memperlemah posisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menurut Manap, dalam situasi ketidakpastian global yang tinggi, aliran modal dapat dengan cepat keluar dari pasar negara berkembang. Investor biasanya mencari tempat yang dinilai lebih aman untuk menyimpan dana, termasuk emas atau instrumen investasi lain yang berstatus safe haven.

“Investor itu akan dengan mudah melepaskan rupiah dan pindah ke negara lain atau ke instrumen lain, terutama emas yang dianggap sangat aman,” ujarnya dalam diskusi ekonomi yang digelar INDEF secara daring, dikutip Senin (9/3/2026).

Manap menilai salah satu level yang harus diwaspadai adalah ketika rupiah menembus kisaran Rp17.000 per dolar AS. Angka tersebut dinilai menjadi ambang psikologis penting bagi pasar keuangan sekaligus sinyal peringatan bagi otoritas moneter.

Jika rupiah terus melemah melewati level tersebut, tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik dikhawatirkan bisa meningkat. Terlebih, angka tersebut juga dinilai cukup jauh dari asumsi nilai tukar yang digunakan pemerintah dalam kerangka makro ekonomi tahun 2026.

Para pelaku pasar biasanya menjadikan angka psikologis seperti ini sebagai indikator sentimen. Ketika kurs mendekati atau menembus batas tersebut, volatilitas di pasar valuta asing dapat meningkat karena investor bereaksi cepat terhadap perubahan ekspektasi ekonomi.

Tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya berasal dari faktor domestik. Ketidakpastian global menjadi faktor dominan yang mempengaruhi arah pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Konflik geopolitik, kenaikan harga komoditas energi, hingga ketidakpastian kebijakan ekonomi di negara besar membuat investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.