Kementerian Keuangan China mengecam kebijakan tarif AS dan menegaskan bahwa langkah tersebut tidak hanya merugikan China tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi global serta rantai pasokan dunia. Beijing mendesak Washington untuk membatalkan tarif dan kembali ke meja perundingan guna menyelesaikan sengketa dagang secara adil dan saling menguntungkan. Dampak Global dan Sikap Negara Lain Kebijakan tarif AS memicu reaksi keras dari berbagai negara. Uni Eropa, Kanada, dan Australia secara terbuka mengecam kebijakan tersebut dan mengancam akan melakukan langkah balasan diplomatik maupun ekonomi.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carne, mengumumkan bahwa Kanada akan mengenakan bea masuk 25% terhadap kendaraan asal AS yang tidak memenuhi syarat dalam perjanjian perdagangan bebas antara Kanada, AS, dan Meksiko (USMCA). Sementara itu, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyebut tarif 10% terhadap negaranya sebagai “tindakan tidak berdasar” yang merusak hubungan perdagangan bilateral.
Di Indonesia, pemerintah hingga kini belum menyampaikan sikap resmi terkait kebijakan tarif AS. Wakil Menteri Perdagangan Diah Roro Siti dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi belum memberikan tanggapan apakah Presiden Prabowo Subianto telah mengadakan rapat khusus terkait situasi ini.
Namun, Menteri Perdagangan Budi Santoso melalui akun Instagram resminya menyatakan bahwa pemerintah telah melakukan rapat koordinasi sejak 2 April 2025 untuk membahas langkah strategis menghadapi kebijakan tarif AS. Meski demikian, detail hasil rapat tersebut belum diungkapkan ke publik. Dampak Ekonomi: Minyak Anjlok, Pasar Saham Terpukul Ketegangan perdagangan antara AS dan China memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan global. Harga minyak dunia anjlok 8% pada Jumat, 4 April 2025, mencapai titik terendah sejak puncak pandemi COVID-19. Harga minyak mentah Brent turun 7,6% menjadi $64,84 per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 8,2% menjadi $61,48 per barel.
Di pasar saham, indeks-indeks utama di Wall Street mengalami tekanan besar. Saham teknologi, termasuk Apple, mengalami penurunan drastis hingga 7%, sementara indeks S&P 500 mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Di Eropa, indeks FTSE di Inggris turun 3,96%, DAX Jerman anjlok 4,72%, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 3,9%. Indeks saham Asia juga mengalami penurunan, dengan Hang Seng Hong Kong turun 1,52%, Nikkei Jepang melemah 2,80%, dan indeks Shanghai turun 0,24%.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.