Jakarta, Sinata.id — Setiap 14 Februari, etalase toko dipenuhi kotak berbentuk hati, bunga mawar, dan yang paling mencolok, adalah cokelat. Dari pasangan muda hingga sahabat, hampir semua menjadikan cokelat sebagai “bahasa cinta” yang paling umum di Hari Valentine. Tapi, mengapa justru cokelat yang selalu muncul di momen ini?
Di balik kebiasaan yang tampak sederhana itu, tersimpan cerita panjang yang melintasi peradaban, bisnis, hingga ilmu pengetahuan.
Dari “Makanan Para Dewa” ke Simbol Cinta
Jauh sebelum menjadi hadiah romantis, cokelat sudah lebih dulu diagungkan oleh peradaban kuno. Dalam jurnal Chocolate, “Food of the Gods”: History, Science, and Human Health karya Maria Teresa Montagna dkk, dikutip Kamis (12/2/2026), disebutkan bahwa suku Aztec menganggap cokelat sebagai makanan sakral, bahkan diyakini memiliki kekuatan magis yang mampu membangkitkan energi dan gairah.
Pada masa itu, cokelat bukanlah camilan murah. Ia menjadi simbol kemewahan yang hanya bisa dinikmati kalangan elite dan bangsawan. Nilainya bukan sekadar rasa, tetapi juga status.
Strategi Dagang yang Mengubah Tradisi
Perjalanan cokelat kemudian berlanjut ke Eropa. Memasuki abad ke-19, seorang pengusaha Inggris bernama Richard Cadbury melihat peluang besar: mengaitkan cokelat dengan momen kasih sayang.
Ia mulai mengemas cokelat dalam kotak berhias dan berbentuk hati, khusus dipasarkan untuk perayaan Valentine. Dari sinilah, cokelat tak lagi sekadar makanan, melainkan simbol perasaan.
Sejak itu, tradisi memberi cokelat di Hari Valentine menyebar luas dan bertahan hingga sekarang—dari Eropa hingga Asia.
Cokelat Memicu Rasa Bahagia
Bukan hanya sejarah yang membuat cokelat identik dengan cinta. Ilmu pengetahuan pun ikut memperkuatnya. Dalam artikel ilmiah The Chemistry of Chocolate oleh Abbey Bigler, dijelaskan bahwa cokelat mengandung theobromine, senyawa stimulan yang bekerja pada sistem saraf dan memberikan efek relaks sekaligus meningkatkan suasana hati.
Selain itu, cokelat juga mengandung phenethylamine, zat kimia yang mendorong otak melepaskan dopamin—neurotransmitter yang memicu rasa senang dan euforia. Efeknya mirip dengan sensasi saat seseorang sedang jatuh cinta.
Kandungan ini juga merangsang pelepasan endorfin, hormon yang membuat tubuh merasa lebih nyaman dan bahagia.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.