Sinata.id
  • Indeks
  • Headline
  • News
    • Nasional
    • Regional
    • Pematangsiantar
    • Simalungun
  • Trending
  • Bisnis
    • Investasi
    • Keuangan
  • Sports
    • Bola
  • Teknologi
    • AI
    • Aplikasi
    • Gadget
    • Game
  • Wisata
  • Entertainment
    • Seleb
No Result
View All Result
Sinata.id
No Result
View All Result
Sinata.id
No Result
View All Result
  • INDEKS
  • Headline
  • News
  • Trending
  • Regional
  • Nasional
  • Bisnis
  • Sports
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Wisata

Sejarah Rakyat Menjarah Harta Pejabat Kaya Doyan Flexing

Editor: Zainal
31 Agustus 2025 | 03:21 WIB
Rubrik: News
Fenomena rakyat menjarah harta pejabat kaya bukan hal baru. Dari Revolusi Prancis, Rusia, Arab Spring hingga Reformasi 1998 di Indonesia.

Ilustrasi.

Sinata.id – Fenomena rakyat menjarah harta pejabat atau kalangan elit kaya bukanlah peristiwa baru. Dalam banyak catatan sejarah, pola ini selalu muncul ketika jurang kesenjangan sosial terlalu lebar. Saat masyarakat bawah terhimpit krisis ekonomi, sementara elit politik justru flexing, pamer kekayaan dan gaya hidup glamor, ledakan sosial seringkali tak terhindarkan.

Penjarahan dalam konteks ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan simbol perlawanan. Menjadi bentuk ekspresi kemarahan kolektif terhadap ketidakadilan yang dirasakan.

Berikut adalah fenomena dalam lintasan Sejarah Rakyat Menjarah Harta Pejabat Pamer Kekayaan di dunia dan Indonesia, dari Revolusi Prancis pada abad ke-18 hingga krisis 1998 di tanah air, dirangkum Sinata.id, Minggu (31/8/2025), dari berbagai sumber.

Timeline Penjarahan dalam Sejarah

  • 1789 – Revolusi Prancis
    Rakyat Paris lapar menyerbu Bastille dan rumah bangsawan. Harta aristokrat dijarah sebagai simbol tumbangnya monarki absolut.

  • 1917 – Revolusi Rusia
    Massa miskin menjarah rumah bangsawan dan keluarga Tsar. Penjarahan dianggap bagian dari revolusi sosial melawan rezim lama.

  • 1965 – Indonesia Pasca-G30S
    Rumah dan aset yang dikaitkan dengan simpatisan PKI dijarah rakyat, memanfaatkan kekacauan politik.

  • 1992 – Kerusuhan Los Angeles (AS)
    Setelah vonis bebas polisi dalam kasus Rodney King, kerusuhan meluas. Toko, mobil, dan rumah-rumah mewah jadi sasaran penjarahan.

  • 1998 – Reformasi Indonesia
    Krisis moneter memicu kerusuhan besar. Pusat perbelanjaan, rumah pengusaha, dan harta elit jadi sasaran amarah rakyat.

  • 2011 – Arab Spring
    Di Tunisia dan Mesir, rumah pejabat rezim dijarah setelah rakyat marah pada kemiskinan dan korupsi.

Baca Juga: Sejarah Membuktikan, Negara Bisa Runtuh Karena Rakus Memungut Pajak

Kesenjangan Sosial dan Ekonomi

Secara sosiologis, penjarahan yang menyasar harta pejabat atau kalangan kaya biasanya dipicu oleh beberapa faktor utama.

Pertama, adanya kesenjangan sosial-ekonomi yang nyata.

Kedua, ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan pemerintah yang gagal memenuhi kebutuhan dasar.

Ketiga, munculnya simbol-simbol kemewahan yang dianggap menyinggung rasa keadilan publik.

Ketika rakyat lapar dan sulit membeli beras, sementara di televisi pejabat memperlihatkan harta diduga hasil korupsi, atau koleksi mobil mewah dan klasik bernilai tinggi, rasa frustrasi itu berubah menjadi amarah sosial.

Dalam kondisi terdesak, rakyat melihat harta pejabat bukan sekadar milik pribadi, melainkan lambang ketidakadilan struktural.

Revolusi Prancis 1789: Bangsawan Jadi Sasaran Amarah

Salah satu catatan paling klasik mengenai penjarahan oleh rakyat terjadi pada Revolusi Prancis tahun 1789.

Kala itu, rakyat Paris hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Harga roti melonjak, rakyat lapar, sementara para bangsawan hidup dalam kemewahan istana.

Amarah pun memuncak.

Massa menyerbu Bastille, sebuah penjara simbol tirani, sekaligus mengarah ke rumah-rumah bangsawan dan gudang pangan.

Barang-barang berharga dijarah, banyak keluarga aristokrat melarikan diri ke luar negeri.

Fenomena ini menandai pergeseran kekuasaan, dari kaum aristokrat ke tangan rakyat.

Sejarawan menyebut, penjarahan kala itu bukan semata-mata tindakan kriminal, melainkan cara rakyat “merebut kembali” hak hidup yang mereka rasa dirampas oleh sistem feodal.


Revolusi Rusia 1917: Rumah Kaum Bangsawan Dijarah

Fenomena serupa terjadi lebih dari seabad kemudian di Rusia.

Rakyat menderita kelaparan akibat Perang Dunia I, sementara keluarga Tsar Nicholas II hidup dalam kemewahan istana.

Kesenjangan sosial mencapai puncaknya.

Ketika Revolusi Bolshevik meletus, rakyat yang marah menyerbu rumah-rumah bangsawan, merampas perhiasan, pakaian, dan harta benda.

Bahkan istana keluarga kerajaan tak luput dari aksi massa.

Bagi rakyat, penjarahan itu adalah simbol penghancuran rezim lama yang menindas.

Lenin dan kaum Bolshevik kemudian menjadikan momentum itu untuk memperkuat dukungan politik.

Penjarahan, dalam konteks ini, adalah bagian dari revolusi sosial yang mengguncang dunia.

Kerusuhan Los Angeles 1992: Keadilan Rasial dan Penjarahan

Di Amerika Serikat, fenomena penjarahan juga pernah meledak.

Pada April 1992, Los Angeles diguncang kerusuhan setelah vonis bebas empat polisi kulit putih yang menganiaya Rodney King, seorang warga kulit hitam.

Aksi protes berubah menjadi kerusuhan massal.

Toko-toko besar, rumah mewah, dan mobil-mobil dijarah serta dibakar.

Meski latar belakang utamanya adalah isu rasial, penjarahan yang terjadi juga menyiratkan rasa frustasi kelompok miskin terhadap sistem sosial yang timpang.

Penjarahan kala itu bahkan menjadi simbol “pembalasan sosial” terhadap elit kulit putih dan pemilik modal yang dianggap diuntungkan oleh diskriminasi sistemik.


Arab Spring 2011: Rumah Pejabat Jadi Target

Gelombang protes di Timur Tengah pada 2011, yang dikenal sebagai Arab Spring, juga menampilkan pola serupa.

Di Tunisia, rakyat yang kesal dengan rezim Ben Ali tidak hanya turun ke jalan menuntut reformasi, tetapi juga menjarah rumah keluarga presiden dan pejabat tinggi.

Fenomena serupa terjadi di Mesir.

Ketika Hosni Mubarak jatuh, banyak rumah pejabat rezim ikut jadi sasaran penjarahan.

Rakyat yang lama hidup dalam kemiskinan melihat harta mewah pejabat sebagai lambang korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.


Indonesia: Dari 1965 hingga Reformasi 1998

Pasca-1965

Setelah pecahnya konflik politik tahun 1965, rumah dan aset orang-orang yang dikaitkan dengan PKI atau simpatisannya banyak dijarah.

Meski bernuansa politik, rakyat ikut terlibat karena melihat kesempatan di tengah kekacauan.

Kerusuhan Mei 1998

Peristiwa paling dramatis dalam sejarah Indonesia modern adalah kerusuhan Mei 1998.

Krisis moneter menghantam, harga kebutuhan pokok melambung, rakyat kelaparan, sementara elit politik dan pengusaha masih bisa mempertahankan gaya hidup mewah.

Amarah rakyat meledak.

Pusat perbelanjaan dijarah, rumah-rumah pengusaha kaya menjadi sasaran, terutama etnis tertentu yang dianggap dekat dengan lingkaran kekuasaan.

Meski penuh luka sejarah, kerusuhan ini mencatat pola yang sama: rakyat miskin menjadikan penjarahan sebagai saluran kemarahan terhadap ketidakadilan.

Pola Berulang

Jika ditelusuri, fenomena rakyat menjarah harta pejabat kaya selalu mengikuti pola yang relatif serupa:

  1. Krisis Ekonomi → harga pangan naik, pengangguran meningkat.

  2. Elit Pamer Kekayaan → pejabat atau bangsawan terlihat hidup berlebihan.

  3. Ketidakadilan Sosial → rakyat merasa akses mereka terhadap keadilan hilang.

  4. Pemicu Krisis → keputusan politik, diskriminasi, atau skandal.

  5. Ledakan Massa → protes berubah menjadi penjarahan massal.

Secara hukum, penjarahan tetap merupakan tindak kriminal.

Namun, secara sosiologis, tindakan itu sering dipahami sebagai protes ekstrem.

Bagi banyak rakyat, menjarah rumah pejabat bukan sekadar mencuri, melainkan simbol “mengambil kembali” apa yang selama ini dirasakan dirampas.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai bentuk resistance by loot—perlawanan rakyat miskin melalui penjarahan.

Pelajaran

Fenomena penjarahan terhadap pejabat kaya harus dibaca sebagai alarm sosial.

Negara wajib belajar dari sejarah. Ketika kesenjangan ekonomi dibiarkan melebar, dan pejabat justru sibuk flexing, maka potensi kerusuhan akan semakin besar.

Solusi yang bisa dilakukan pemerintah antara lain:

  • Memastikan keadilan ekonomi melalui subsidi dan bantuan langsung.

  • Membangun komunikasi sosial yang lebih empatik, bukan pamer kekayaan.

  • Meningkatkan integritas pejabat agar tidak terjebak dalam gaya hidup glamor.

Dari Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, kerusuhan Los Angeles, Arab Spring, hingga Reformasi 1998 di Indonesia, pola yang sama selalu muncul: ketika rakyat lapar dan pejabat kaya pamer harta, maka benturan sosial tak terhindarkan.

Penjarahan dalam sejarah bukan sekadar kriminalitas, melainkan ekspresi kemarahan terhadap ketidakadilan. Jika pemerintah tidak segera menutup jurang kesenjangan, sejarah bisa saja berulang. (A46)

Tags: FlexingHarta PejabatPenjarahanSejarah

Berita Terkait

Seruan Setara Institute: Jangan Sampai Darurat Sipil, Darurat Militer Terjadi
News

Seruan Setara Institute: Jangan Sampai Darurat Sipil, Darurat Militer Terjadi

Editor: RP
31 Agustus 2025 | 16:16 WIB

Jakarta, Sinata.id – Setara Institute ingatkan seluruh elemen bangsa Indonesia, agar darurat sipil maupun darurat militer, jangan sampai terjadi di...

Baca SelengkapnyaDetails
Presiden Prabowo Subianto. (dok Mensetneg)
Nasional

Prabowo Soroti Gejala Makar, Perintahkan Aparat Bertindak Tegas

Editor: Redaksi Sinata 2
31 Agustus 2025 | 15:57 WIB

Jakarta, Sinata.id - Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat di Istana Negara, Jakarta, pada Minggu (31/8/2025). Dalam pernyataannya usai rapat, Presiden...

Baca SelengkapnyaDetails
Eko Patrio dan Uya Kuya. (ist)
Nasional

Eko Patrio dan Uya Kuya Dinonaktifkan dari DPR

Editor: Redaksi Sinata 2
31 Agustus 2025 | 15:42 WIB

Jakarta, Sinata.id – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) resmi menonaktifkan dua kadernya, Eko Hendro Purnomo atau Eko...

Baca SelengkapnyaDetails
Dewan Pers Serukan Media Tetap Profesional dalam Liputan Aksi Unjuk Rasa
News

Dewan Pers Serukan Media Tetap Profesional dalam Liputan Aksi Unjuk Rasa

Editor: Zainal
31 Agustus 2025 | 14:52 WIB

Jakarta, Sinata.id – Dewan Pers mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh media massa terkait pemberitaan aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak...

Baca SelengkapnyaDetails
Ronald Panjaitan. ist
News

Besok di Siantar, Cipayung Plus dan Koalisi Masyarakat Sipil Juga Akan Unjuk Rasa

Editor: RP
31 Agustus 2025 | 13:58 WIB

Pematangsiantar, Sinata.id - Menyikapi prilaku aparat Polri dan anggota dewan, bukan hanya PMII yang akan menggelar aksi unjuk rasa besok,...

Baca SelengkapnyaDetails

Berita Terbaru

News

Seruan Setara Institute: Jangan Sampai Darurat Sipil, Darurat Militer Terjadi

31 Agustus 2025 | 16:16 WIB
Nasional

Prabowo Soroti Gejala Makar, Perintahkan Aparat Bertindak Tegas

31 Agustus 2025 | 15:57 WIB
Nasional

Eko Patrio dan Uya Kuya Dinonaktifkan dari DPR

31 Agustus 2025 | 15:42 WIB
News

Dewan Pers Serukan Media Tetap Profesional dalam Liputan Aksi Unjuk Rasa

31 Agustus 2025 | 14:52 WIB
News

Besok di Siantar, Cipayung Plus dan Koalisi Masyarakat Sipil Juga Akan Unjuk Rasa

31 Agustus 2025 | 13:58 WIB
AI

Bagaimana Negara “Boneka Algoritma” Bisa Hancur Tanpa Satu Peluru Ditembakkan

31 Agustus 2025 | 13:54 WIB
Pematangsiantar

Jelang Unjuk Rasa Warga, Polres Belum Bisa Pastikan Lokasi Pengalihan Arus Lalu Lintas

31 Agustus 2025 | 13:03 WIB
Nasional

Nasdem Nonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari DPR-RI

31 Agustus 2025 | 12:29 WIB
News

Besok Siang, Gabungan Massa PMII, IMM, KRJPS, Ojol dan Saling Unjuk Rasa di Siantar

31 Agustus 2025 | 10:42 WIB
News

Presiden Minta Aparat Tindak Tegas Aksi Massa Anarkis

31 Agustus 2025 | 03:32 WIB
News

Sejarah Rakyat Menjarah Harta Pejabat Kaya Doyan Flexing

31 Agustus 2025 | 03:21 WIB
News

Iron Man Tanjung Priok Ambruk

31 Agustus 2025 | 03:01 WIB
  • Indeks
  • Pedoman
  • Privacy
  • Redaksi
  • ToS
Seedbacklink

© 2025

logo sinata id new


PT. SINAR KEADILAN UTAMA (SINATA)
Jl. Merpati V No 2, Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, 12320.

ALAMAT REDAKSI
Jl. Pdt. Justin Sihombing No. 162, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Pematangsiantar, 21139, Sumatera Utara.

📧 redaksisinata @ gmail.com

No Result
View All Result
  • Indeks
  • Headline
  • News
    • Nasional
    • Regional
    • Pematangsiantar
    • Simalungun
  • Trending
  • Bisnis
    • Investasi
    • Keuangan
  • Sports
    • Bola
  • Teknologi
    • AI
    • Aplikasi
    • Gadget
    • Game
  • Wisata
  • Entertainment
    • Seleb

© 2025

logo sinata id new


PT. SINAR KEADILAN UTAMA (SINATA)
Jl. Merpati V No 2, Kelurahan Pesanggrahan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, 12320.

ALAMAT REDAKSI
Jl. Pdt. Justin Sihombing No. 162, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Pematangsiantar, 21139, Sumatera Utara.

📧 redaksisinata @ gmail.com

Sinata.id