Sinata.id – Fenomena rakyat menjarah harta pejabat atau kalangan elit kaya bukanlah peristiwa baru. Dalam banyak catatan sejarah, pola ini selalu muncul ketika jurang kesenjangan sosial terlalu lebar. Saat masyarakat bawah terhimpit krisis ekonomi, sementara elit politik justru flexing, pamer kekayaan dan gaya hidup glamor, ledakan sosial seringkali tak terhindarkan.
Penjarahan dalam konteks ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan simbol perlawanan. Menjadi bentuk ekspresi kemarahan kolektif terhadap ketidakadilan yang dirasakan.
Berikut adalah fenomena dalam lintasan Sejarah Rakyat Menjarah Harta Pejabat Pamer Kekayaan di dunia dan Indonesia, dari Revolusi Prancis pada abad ke-18 hingga krisis 1998 di tanah air, dirangkum Sinata.id, Minggu (31/8/2025), dari berbagai sumber.
Timeline Penjarahan dalam Sejarah
-
1789 – Revolusi Prancis
Rakyat Paris lapar menyerbu Bastille dan rumah bangsawan. Harta aristokrat dijarah sebagai simbol tumbangnya monarki absolut. -
1917 – Revolusi Rusia
Massa miskin menjarah rumah bangsawan dan keluarga Tsar. Penjarahan dianggap bagian dari revolusi sosial melawan rezim lama. -
1965 – Indonesia Pasca-G30S
Rumah dan aset yang dikaitkan dengan simpatisan PKI dijarah rakyat, memanfaatkan kekacauan politik. -
1992 – Kerusuhan Los Angeles (AS)
Setelah vonis bebas polisi dalam kasus Rodney King, kerusuhan meluas. Toko, mobil, dan rumah-rumah mewah jadi sasaran penjarahan. -
1998 – Reformasi Indonesia
Krisis moneter memicu kerusuhan besar. Pusat perbelanjaan, rumah pengusaha, dan harta elit jadi sasaran amarah rakyat. -
2011 – Arab Spring
Di Tunisia dan Mesir, rumah pejabat rezim dijarah setelah rakyat marah pada kemiskinan dan korupsi.
Baca Juga: Sejarah Membuktikan, Negara Bisa Runtuh Karena Rakus Memungut Pajak
Kesenjangan Sosial dan Ekonomi
Secara sosiologis, penjarahan yang menyasar harta pejabat atau kalangan kaya biasanya dipicu oleh beberapa faktor utama.
Pertama, adanya kesenjangan sosial-ekonomi yang nyata.
Kedua, ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan pemerintah yang gagal memenuhi kebutuhan dasar.
Ketiga, munculnya simbol-simbol kemewahan yang dianggap menyinggung rasa keadilan publik.
Ketika rakyat lapar dan sulit membeli beras, sementara di televisi pejabat memperlihatkan harta diduga hasil korupsi, atau koleksi mobil mewah dan klasik bernilai tinggi, rasa frustrasi itu berubah menjadi amarah sosial.
Dalam kondisi terdesak, rakyat melihat harta pejabat bukan sekadar milik pribadi, melainkan lambang ketidakadilan struktural.
Revolusi Prancis 1789: Bangsawan Jadi Sasaran Amarah
Salah satu catatan paling klasik mengenai penjarahan oleh rakyat terjadi pada Revolusi Prancis tahun 1789.
Kala itu, rakyat Paris hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Harga roti melonjak, rakyat lapar, sementara para bangsawan hidup dalam kemewahan istana.
Amarah pun memuncak.
Massa menyerbu Bastille, sebuah penjara simbol tirani, sekaligus mengarah ke rumah-rumah bangsawan dan gudang pangan.
Barang-barang berharga dijarah, banyak keluarga aristokrat melarikan diri ke luar negeri.
Fenomena ini menandai pergeseran kekuasaan, dari kaum aristokrat ke tangan rakyat.
Sejarawan menyebut, penjarahan kala itu bukan semata-mata tindakan kriminal, melainkan cara rakyat “merebut kembali” hak hidup yang mereka rasa dirampas oleh sistem feodal.
Revolusi Rusia 1917: Rumah Kaum Bangsawan Dijarah
Fenomena serupa terjadi lebih dari seabad kemudian di Rusia.
Rakyat menderita kelaparan akibat Perang Dunia I, sementara keluarga Tsar Nicholas II hidup dalam kemewahan istana.
Kesenjangan sosial mencapai puncaknya.
Ketika Revolusi Bolshevik meletus, rakyat yang marah menyerbu rumah-rumah bangsawan, merampas perhiasan, pakaian, dan harta benda.
Bahkan istana keluarga kerajaan tak luput dari aksi massa.
Bagi rakyat, penjarahan itu adalah simbol penghancuran rezim lama yang menindas.
Lenin dan kaum Bolshevik kemudian menjadikan momentum itu untuk memperkuat dukungan politik.
Penjarahan, dalam konteks ini, adalah bagian dari revolusi sosial yang mengguncang dunia.
Kerusuhan Los Angeles 1992: Keadilan Rasial dan Penjarahan
Di Amerika Serikat, fenomena penjarahan juga pernah meledak.
Pada April 1992, Los Angeles diguncang kerusuhan setelah vonis bebas empat polisi kulit putih yang menganiaya Rodney King, seorang warga kulit hitam.
Aksi protes berubah menjadi kerusuhan massal.
Toko-toko besar, rumah mewah, dan mobil-mobil dijarah serta dibakar.
Meski latar belakang utamanya adalah isu rasial, penjarahan yang terjadi juga menyiratkan rasa frustasi kelompok miskin terhadap sistem sosial yang timpang.
Penjarahan kala itu bahkan menjadi simbol “pembalasan sosial” terhadap elit kulit putih dan pemilik modal yang dianggap diuntungkan oleh diskriminasi sistemik.
Arab Spring 2011: Rumah Pejabat Jadi Target
Gelombang protes di Timur Tengah pada 2011, yang dikenal sebagai Arab Spring, juga menampilkan pola serupa.
Di Tunisia, rakyat yang kesal dengan rezim Ben Ali tidak hanya turun ke jalan menuntut reformasi, tetapi juga menjarah rumah keluarga presiden dan pejabat tinggi.
Fenomena serupa terjadi di Mesir.
Ketika Hosni Mubarak jatuh, banyak rumah pejabat rezim ikut jadi sasaran penjarahan.
Rakyat yang lama hidup dalam kemiskinan melihat harta mewah pejabat sebagai lambang korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Indonesia: Dari 1965 hingga Reformasi 1998
Pasca-1965
Setelah pecahnya konflik politik tahun 1965, rumah dan aset orang-orang yang dikaitkan dengan PKI atau simpatisannya banyak dijarah.
Meski bernuansa politik, rakyat ikut terlibat karena melihat kesempatan di tengah kekacauan.
Kerusuhan Mei 1998
Peristiwa paling dramatis dalam sejarah Indonesia modern adalah kerusuhan Mei 1998.
Krisis moneter menghantam, harga kebutuhan pokok melambung, rakyat kelaparan, sementara elit politik dan pengusaha masih bisa mempertahankan gaya hidup mewah.
Amarah rakyat meledak.
Pusat perbelanjaan dijarah, rumah-rumah pengusaha kaya menjadi sasaran, terutama etnis tertentu yang dianggap dekat dengan lingkaran kekuasaan.
Meski penuh luka sejarah, kerusuhan ini mencatat pola yang sama: rakyat miskin menjadikan penjarahan sebagai saluran kemarahan terhadap ketidakadilan.
Pola Berulang
Jika ditelusuri, fenomena rakyat menjarah harta pejabat kaya selalu mengikuti pola yang relatif serupa:
-
Krisis Ekonomi → harga pangan naik, pengangguran meningkat.
-
Elit Pamer Kekayaan → pejabat atau bangsawan terlihat hidup berlebihan.
-
Ketidakadilan Sosial → rakyat merasa akses mereka terhadap keadilan hilang.
-
Pemicu Krisis → keputusan politik, diskriminasi, atau skandal.
-
Ledakan Massa → protes berubah menjadi penjarahan massal.
Secara hukum, penjarahan tetap merupakan tindak kriminal.
Namun, secara sosiologis, tindakan itu sering dipahami sebagai protes ekstrem.
Bagi banyak rakyat, menjarah rumah pejabat bukan sekadar mencuri, melainkan simbol “mengambil kembali” apa yang selama ini dirasakan dirampas.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai bentuk resistance by loot—perlawanan rakyat miskin melalui penjarahan.
Pelajaran
Fenomena penjarahan terhadap pejabat kaya harus dibaca sebagai alarm sosial.
Negara wajib belajar dari sejarah. Ketika kesenjangan ekonomi dibiarkan melebar, dan pejabat justru sibuk flexing, maka potensi kerusuhan akan semakin besar.
Solusi yang bisa dilakukan pemerintah antara lain:
-
Memastikan keadilan ekonomi melalui subsidi dan bantuan langsung.
-
Membangun komunikasi sosial yang lebih empatik, bukan pamer kekayaan.
-
Meningkatkan integritas pejabat agar tidak terjebak dalam gaya hidup glamor.
Dari Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, kerusuhan Los Angeles, Arab Spring, hingga Reformasi 1998 di Indonesia, pola yang sama selalu muncul: ketika rakyat lapar dan pejabat kaya pamer harta, maka benturan sosial tak terhindarkan.
Penjarahan dalam sejarah bukan sekadar kriminalitas, melainkan ekspresi kemarahan terhadap ketidakadilan. Jika pemerintah tidak segera menutup jurang kesenjangan, sejarah bisa saja berulang. (A46)