Kala itu, rakyat Paris hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Harga roti melonjak, rakyat lapar, sementara para bangsawan hidup dalam kemewahan istana.
Amarah pun memuncak.
Massa menyerbu Bastille, sebuah penjara simbol tirani, sekaligus mengarah ke rumah-rumah bangsawan dan gudang pangan.
Barang-barang berharga dijarah, banyak keluarga aristokrat melarikan diri ke luar negeri.
Fenomena ini menandai pergeseran kekuasaan, dari kaum aristokrat ke tangan rakyat.
Sejarawan menyebut, penjarahan kala itu bukan semata-mata tindakan kriminal, melainkan cara rakyat “merebut kembali” hak hidup yang mereka rasa dirampas oleh sistem feodal.
Revolusi Rusia 1917: Rumah Kaum Bangsawan Dijarah
Fenomena serupa terjadi lebih dari seabad kemudian di Rusia.
Rakyat menderita kelaparan akibat Perang Dunia I, sementara keluarga Tsar Nicholas II hidup dalam kemewahan istana.
Kesenjangan sosial mencapai puncaknya.
Ketika Revolusi Bolshevik meletus, rakyat yang marah menyerbu rumah-rumah bangsawan, merampas perhiasan, pakaian, dan harta benda.
Bahkan istana keluarga kerajaan tak luput dari aksi massa.
Bagi rakyat, penjarahan itu adalah simbol penghancuran rezim lama yang menindas.
Lenin dan kaum Bolshevik kemudian menjadikan momentum itu untuk memperkuat dukungan politik.
Penjarahan, dalam konteks ini, adalah bagian dari revolusi sosial yang mengguncang dunia.
Kerusuhan Los Angeles 1992: Keadilan Rasial dan Penjarahan
Di Amerika Serikat, fenomena penjarahan juga pernah meledak.
Pada April 1992, Los Angeles diguncang kerusuhan setelah vonis bebas empat polisi kulit putih yang menganiaya Rodney King, seorang warga kulit hitam.
Aksi protes berubah menjadi kerusuhan massal.
Toko-toko besar, rumah mewah, dan mobil-mobil dijarah serta dibakar.
Meski latar belakang utamanya adalah isu rasial, penjarahan yang terjadi juga menyiratkan rasa frustasi kelompok miskin terhadap sistem sosial yang timpang.
Penjarahan kala itu bahkan menjadi simbol “pembalasan sosial” terhadap elit kulit putih dan pemilik modal yang dianggap diuntungkan oleh diskriminasi sistemik.
Arab Spring 2011: Rumah Pejabat Jadi Target
Gelombang protes di Timur Tengah pada 2011, yang dikenal sebagai Arab Spring, juga menampilkan pola serupa.
Di Tunisia, rakyat yang kesal dengan rezim Ben Ali tidak hanya turun ke jalan menuntut reformasi, tetapi juga menjarah rumah keluarga presiden dan pejabat tinggi.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.