MENU
Sejarah Rakyat Menjarah Harta Pejabat Kaya Doyan Flexing
WA FB
News

Sejarah Rakyat Menjarah Harta Pejabat Kaya Doyan Flexing

R Editor : Redaksi Sinata | 31 Aug 2025 | 03:21 WIB
Sejarah Rakyat Menjarah Harta Pejabat Kaya Doyan Flexing
Ilustrasi.

Fenomena serupa terjadi di Mesir.

Ketika Hosni Mubarak jatuh, banyak rumah pejabat rezim ikut jadi sasaran penjarahan.

Rakyat yang lama hidup dalam kemiskinan melihat harta mewah pejabat sebagai lambang korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.


Indonesia: Dari 1965 hingga Reformasi 1998

Pasca-1965

Setelah pecahnya konflik politik tahun 1965, rumah dan aset orang-orang yang dikaitkan dengan PKI atau simpatisannya banyak dijarah.

Meski bernuansa politik, rakyat ikut terlibat karena melihat kesempatan di tengah kekacauan.

Kerusuhan Mei 1998

Peristiwa paling dramatis dalam sejarah Indonesia modern adalah kerusuhan Mei 1998.

Krisis moneter menghantam, harga kebutuhan pokok melambung, rakyat kelaparan, sementara elit politik dan pengusaha masih bisa mempertahankan gaya hidup mewah.

Amarah rakyat meledak.

Pusat perbelanjaan dijarah, rumah-rumah pengusaha kaya menjadi sasaran, terutama etnis tertentu yang dianggap dekat dengan lingkaran kekuasaan.

Meski penuh luka sejarah, kerusuhan ini mencatat pola yang sama: rakyat miskin menjadikan penjarahan sebagai saluran kemarahan terhadap ketidakadilan.

Pola Berulang

Jika ditelusuri, fenomena rakyat menjarah harta pejabat kaya selalu mengikuti pola yang relatif serupa:

  1. Krisis Ekonomi → harga pangan naik, pengangguran meningkat.

  2. Elit Pamer Kekayaan → pejabat atau bangsawan terlihat hidup berlebihan.

  3. Ketidakadilan Sosial → rakyat merasa akses mereka terhadap keadilan hilang.

  4. Pemicu Krisis → keputusan politik, diskriminasi, atau skandal.

  5. Ledakan Massa → protes berubah menjadi penjarahan massal.

Secara hukum, penjarahan tetap merupakan tindak kriminal.

Namun, secara sosiologis, tindakan itu sering dipahami sebagai protes ekstrem.

Bagi banyak rakyat, menjarah rumah pejabat bukan sekadar mencuri, melainkan simbol “mengambil kembali” apa yang selama ini dirasakan dirampas.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai bentuk resistance by loot—perlawanan rakyat miskin melalui penjarahan.

Pelajaran

Fenomena penjarahan terhadap pejabat kaya harus dibaca sebagai alarm sosial.

Negara wajib belajar dari sejarah. Ketika kesenjangan ekonomi dibiarkan melebar, dan pejabat justru sibuk flexing, maka potensi kerusuhan akan semakin besar.

Solusi yang bisa dilakukan pemerintah antara lain:

  • Memastikan keadilan ekonomi melalui subsidi dan bantuan langsung.

  • Membangun komunikasi sosial yang lebih empatik, bukan pamer kekayaan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.