Washintong, Sinata.id - Dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di awal 2026, peperangan modern tidak lagi hanya soal rudal dan bom. Operasi siber kini menjadi senjata utama yang menentukan arah dan hasil pertempuran, dengan target strategis bukan sekadar fasilitas militer, tetapi stabilitas pemerintahan Iran sendiri.
Operasi siber Israel dan AS, yang masing-masing bersandi Roaring Lion dan Epic Fury, dilaporkan menembus jaringan kritis Iran untuk memengaruhi setiap keputusan militer dan politik. Shay Nahum, CEO CYGHT dan penerima Israel Defense Prize, menekankan dalam wawancara dengan The Jerusalem Post bahwa serangan digital kini menjadi inti strategi perang, bukan sekadar pelengkap.
"Setiap rudal yang ditembakkan dan setiap operasi militer bergantung pada informasi yang diperoleh melalui siber," kata Nahum. "Siber adalah bahan bakar untuk korps udara, darat, dan laut."
Peperangan digital ini memanfaatkan intelijen, sinyal intelijen (SIGINT), dan data real-time untuk menuntun jet tempur, kapal perang, dan sistem senjata tepat ke target. Awalnya, operasi semacam Rising Lion pada Juni 2025 menargetkan program nuklir dan rudal Iran.
Kini, serangan diperluas untuk melumpuhkan struktur pemerintahan dan mendorong tekanan internal dari rakyat Iran.
Baca: 58 Ribu Jemaah Umrah Terimbas Konflik Timur Tengah, DPR RI Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Strategi ini termasuk kampanye psikologis melalui media digital. Dua insiden yang dilaporkan meliputi penyebaran rekaman audio yang diduga suara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kepada rakyat Iran, serta notifikasi aplikasi yang memberi informasi palsu tentang bantuan pemerintah. Langkah ini dimaksudkan untuk memicu ketidakpuasan rakyat dan mempercepat runtuhnya rezim.
Jejak operasi siber Israel dan AS terhadap Iran tidak baru. Menurut Nahum, infiltrasi dimulai sejak 2010 dengan virus Stuxnet, yang merusak fasilitas nuklir Iran.
Akses Barat terus diperluas selama bertahun-tahun, termasuk serangan terhadap bursa bitcoin dan sistem perbankan yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Juni lalu. "Lima belas tahun kemudian, akses Barat jauh lebih dalam ke keputusan-keputusan kritis mereka," ujarnya.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.