Sinata.id - Teror yang menyasar influencer Sherly Annavita Rahmi bukan muncul tanpa sebab. Rangkaian intimidasi itu diduga kuat dipicu oleh sikap kritis Sherly terhadap penanganan bencana ekologis di Sumatera, khususnya di Aceh, yang ia suarakan secara terbuka di media sosial dan sejumlah program televisi nasional.
Dalam beberapa kesempatan, Sherly Annavita secara konsisten menyoroti lambannya respons negara, belum ditetapkannya status bencana nasional, serta penderitaan warga terdampak yang dinilai belum tertangani secara menyeluruh.
Kritik tersebut disampaikan dengan narasi kemanusiaan dan data lapangan, namun justru berujung pada tekanan yang semakin intens.
Menurut pengakuan Sherly, eskalasi teror mulai terasa setelah dirinya aktif tampil di ruang publik sebagai representasi suara dari Sumatera.
Sejak saat itu, pesan bernada intimidasi datang silih berganti melalui nomor pribadi dan akun media sosialnya.
Dari Kritik Publik ke Ancaman
Awalnya, teror terhadap Sherly hanya berupa serangan verbal di ruang digital.
Namun situasi berubah drastis ketika intimidasi merambah ke dunia nyata.
Rumah tempat Sherly tinggal dilempari telur busuk, mobil pribadinya dicoret cat merah, dan secarik surat ancaman ditemukan di sekitar pagar rumah.
Yang membuat ancaman ini semakin serius, pelaku teror diduga memiliki akses terhadap data pribadi keluarga Sherly.
Dalam salah satu surat, tercantum identitas adiknya yang tinggal bersamanya.
Fakta ini mengindikasikan bahwa teror tidak bersifat spontan, melainkan terencana dan bertujuan menekan secara psikologis.
Sherly menilai pola ancaman tersebut berkaitan langsung dengan keberaniannya mengkritisi kebijakan dan sikap pemerintah dalam merespons bencana Sumatera.
Ia menyebut, intensitas teror meningkat seiring dengan menguatnya sorotan publik terhadap isu yang ia suarakan.
Kritik Dianggap Ancaman
Dikutip dari laman akun Instagram resminya, Selasa (30/12/2025), Sherly Annavita menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan tidak dilandasi kebencian politik atau kepentingan pribadi.
Menurutnya, dorongan utama berbicara adalah kepedulian terhadap korban bencana yang masih hidup dalam kondisi darurat, sementara perhatian negara dinilai belum maksimal.
Namun, perbedaan pandangan itu tampaknya ditafsirkan sebagai ancaman oleh pihak-pihak tertentu.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.