MENU
Sikap Shafh Al-Jamil Dalam Perspektif Kebhinekaan
WA FB
Religi

Sikap Shafh Al-Jamil Dalam Perspektif Kebhinekaan

G Editor : Gunawan Purba | 07 Nov 2025 | 07:30 WIB
Sikap Shafh Al-Jamil Dalam Perspektif Kebhinekaan
Dosen STAI Samora Ahmad Al Hafif Syahputra MPd

Oleh Ahmad Al Hafif Syahputra MPd Dosen STAI SAMORA

Shafh al-Jamil (memaafkan yang indah) adalah salah satu dari tiga Jamil (tiga sifat yang disifati dengan indah dalam Al-Qur'an). Sedang kan dua Jamil yang lain adalah Shabru Jamil dan Hajru Jamil.

Dalam Al-Qur'an, istilah "shafh al-jamil" الجمیل صفح adalah frasa yang memiliki makna mendalam dan spiritual. Sering kali diartikan sebagai "memaafkan dengan cara yang baik" atau "memaafkan dengan indah".

Frasa ini tidak hanya berarti memaafkan kesalahan orang lain, tetapi juga melupakannya tanpa menyimpan dendam, amarah, atau rasa sakit di dalam hati.

Secara harfiah, "shafh" صفح berarti membalik halaman. Ini mengisyaratkan bahwa ketika memaafkan seseorang, kita harus benar-benar membalik lembaran, tidak lagi membahas atau mengingat kesalahan yang telah terjadi.

Sementara itu, "al-jamil" الجمیل berarti indah atau baik. Jadi "shafh al-jamil" adalah tindakan memaafkan yang dilakukan dengan:

1. Tanpa Mencela atau Menghina :

Tidak ada ucapan atau tindakan yang merendahkan orang yang dimaafkan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2. Tanpa Menuntut Balas :

Tidak ada keinginan untuk membalas dendam atau membuat orang tersebut merasa bersalah.

3. Dengan Tulus dari Hati :

Memaafkan tidak hanya di lisan, tetapi juga di dalam hati, sehingga tidak ada lagi perasaan benci atau amarah yang tersisa.

4. Melupakan Kesalahan :

Setelah memaafkan, anda tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahan tersebut di masa depan.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Hijr ayat 85 : dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik (shafh al-jamil).

Perbedaan utama antara "memaafkan biasa" dan "shafh al-jamil" adalah tingkat keikhlasannya.

Memaafkan biasa mungkin masih menyimpan sedikit rasa sakit atau dendam, sementara "shafh al-jamil" adalah tingkat maaf tertinggi yang menunjukkan kebesaran jiwa dan kesempurnaan akhlak, seperti yang dicontohkan oleh para Nabi.

Berikut contoh shafh al-jamil dalam Al-Quran:

1. Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk memperaktikkan shafh al-jamil dalam menghadapi kaum musyrikin yang mendustakan risalahnya. Ayat Al-Quran Surah Al-Hijr ayat 85 ini turun di Mekah, saat Nabi dan para sahabatnya menghadapi ejekan, penolakan, dan penganiayaan yang berat.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.