MENU
Sikap Shafh Al-Jamil Dalam Perspektif Kebhinekaan
WA FB
Religi

Sikap Shafh Al-Jamil Dalam Perspektif Kebhinekaan

G Editor : Gunawan Purba | 07 Nov 2025 | 07:30 WIB
Sikap Shafh Al-Jamil Dalam Perspektif Kebhinekaan
Dosen STAI Samora Ahmad Al Hafif Syahputra MPd

Allah tidak memerintahkan Nabi untuk membalas dendam atau membalas ejekan mereka. Sebaliknya Allah memerintahkan untuk berpaling dari perlakuan buruk mereka dan tidak mengungkit kesalahan itu sama sekali. Ini adalah bentuk pengampunan yang paling indah, di mana seseorang tidak hanya menahan diri dari membalas, tetapi juga membersihkan hatinya dari rasa sakit hati atau dendam.

2. Sikap shafh al-jamil (memaafkan dengan cara yang baik tanpa celaan) adalah kisah Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam dan saudara-saudaranya. Karena rasa iri yang mendalam, saudara-saudara Yusuf bersekongkol dan merencanakan untuk menyingkirkan Yusuf.

Awalnya mereka ingin membunuhnya, tetapi kemudian salah satu dari mereka (ada yang menyebut Ruben atau Yahuda) mengusulkan agar Yusuf dibuang ke dalam sumur kering. Lalu mereka kembali kepada Nabi Ya'qub dengan membawa jubah Yusuf yang telah dilumuri darah palsu (darah kambing).

Mereka berdusta bahwa Yusuf telah dimakan serigala. Hal ini menyebabkan Nabi Ya'qub sangat sedih dan berduka dalam waktu yang lama.

Setelah melalui berbagai cobaan, termasuk fitnah Zulaikha (istri Al-Aziz) dan dipenjara, Allah SWT menganugerahkan kepada Nabi Yusuf suatu kedudukan yang tinggi, yaitu diangkat menjadi Menteri Keuangan (Bendahara Negara), posisi yang sangat strategis.

Ketika saudara-saudara Yusuf mengetahui bahwa Yusuf sang bendahara Negara adalah Yusuf yang mereka buang tempo hari, mereka sangat malu dan merasa bersalah.

Namun Yusuf tidak menggunakan momen pengakuan dosa itu untuk membalas sakit hatinya. Nabi Yusuf A.S. tidak berkata, "Lihatlah, dulu kalian melempar aku ke sumur, sekarang kalian butuh bantuanku.

Ia tidak pula mengungkit penderitaannya di masa lalu dijual sebagai budak, dipenjara bertahun-tahun meskipun semua itu adalah perbuatan saudara-saudaranya.

Nabi Yusuf memberikan maaf secara penuh dan bahkan mendoakan ampunan bagi mereka dari Allah. Ini menunjukkan puncak dari sifat memaafkan yang tidak hanya mengakhiri permusuhan, tetapi juga membersihkan hati dari dendam.

Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran Surah Yusuf ayat 92 : “Dia (Yusuf) berkata: Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang".

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.