Maaf yang diberikan secara tulus akan memberikan dampak positip dalam diri orang yang membuat kesalahan, berupa kesadaran akan kesalahannya, penghargaan yang tinggi terhadap yang memberi maaf serta motivasi yang kuat untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat pada masa yang akan datang.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang memiliki banyak sekali hal-hal berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tersebut berkaitan dengan prinsip, pedoman dan tatanan budaya di masyarakat yang disebut kebhinekaan.
Kebhinekaan (atau keragaman) merujuk pada adanya perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan di tengah masyarakat. Indonesia, dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" (Berbeda-beda tetapi Tetap Satu), adalah contoh utama negara yang kaya akan kebhinekaan.
Kebhinekaan tersebut meliputi kebhinekaan suku bangsa dan ras, kebhinekaan agama dan kepercayaan, kebhinekaan bahasa, kebhinekaan adat istiadat dan budaya, kebhinekaan profesi dan pekerjaan serta kebhinekaan tingkat sosial dan ekonomi. Semua macam kebhinekaan ini membentuk mozaik unik bangsa Indonesia, yang perlu dikelola dengan sikap toleransi dan saling menghargai. Satu satu sikap yang harus ditanamkan dalam Islam adalah Shafh al-Jamil (memaafkan yang indah) sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran.
Shafh al-Jamil (memaafkan yang indah) bukan berarti pasrah dan tidak berbuat sesuatupun dan hanya menyerahkan persoalan hanya kepada Allah SWT dan membebaskan orang yang telah menzalimi untuk berbuat sesuka hatinya.
Lebih jauh Shafh al-Jamil memberikan maaf yang tulus terhadap kesalahan orang lain dengan maksud agar orang tersebut merobah kesalahan yang telah diperbuatnya, memperkuat silaturrohim antara kita dengan yang telah melakukan kesalahan serta dalam rangka menerapkan misi dan dakwah Islam sebagai Rohmatal Lil’alamin bagi semua makhluk di muka bumi ini. Islam bukan Agama ekstrim kiri dan ekstrim kanan.
Sebaliknya Islam agama yang moderat yang mampu membawa keselamatan bagi umat manusia di dunia dan akhirat. QS. Al-Ma'idah ayat 16 : "Dengan Kitab (Al-Qur'an) itulah Allah menunjuki orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan (Sabilus Salam), dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus." Wallahul muafiq ila aqwaamit thoriq. (*)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.