MENU
Sikap Shafh Al-Jamil Dalam Perspektif Kebhinekaan
WA FB
Religi

Sikap Shafh Al-Jamil Dalam Perspektif Kebhinekaan

G Editor : Gunawan Purba | 07 Nov 2025 | 07:30 WIB
Sikap Shafh Al-Jamil Dalam Perspektif Kebhinekaan
Dosen STAI Samora Ahmad Al Hafif Syahputra MPd

Ia sangat dendam kepada Hamzah karena Hamzah telah membunuh ayah, paman, dan saudara laki-lakinya dalam Perang Badar. Untuk membalas dendam, Hindun menjanjikan hadiah besar kepada siapa pun yang bisa membunuh Hamzah. Hadiah itu diberikan kepada seorang budak bernama Wahsyi bin Harb.

Wahsyi adalah seorang budak yang mahir menggunakan tombak pendek yang disebut harbah. Ia menunggu kesempatan yang tepat untuk menyerang Hamzah di medan Perang Uhud. Ketika Hamzah sedang sibuk bertarung dengan musuh, Wahsyi melempar tombaknya dari jarak jauh dan tepat mengenai Hamzah. Hamzah pun gugur seketika.

Setelah pertempuran usai, Hindun binti Utbah dan beberapa wanita Quraisy lainnya mendatangi jasad Hamzah. Penuh kebencian, Hindun merobek dada Hamzah, mengambil hatinya, dan mencoba memakannya sebagai bentuk balas dendam.

Peristiwa ini sangat menyayat hati dan membuat Nabi Muhammad SAW sangat sedih. Kematian Hamzah sangat berkesan bagi Nabi Muhammad SAW. Kesedihan beliau begitu mendalam. Nabi bersumpah untuk membalaskan dendamnya, tetapi kemudian Allah menurunkan wahyu yang melarang tindakan pembalasan yang berlebihan. Wahyu itu mengajarkan pentingnya kesabaran dan keadilan, bahkan di tengah duka yang mendalam.

Belakangan, Wahsyi bin Harb dan Hindun binti Utbah memeluk Islam setelah penaklukan Mekkah. Meskipun awalnya sangat sulit, Nabi Muhammad SAW memaafkan mereka. Menunjukkan kebesaran hati dan pengampunan yang tulus.

Wahsyi bahkan bertobat dan kemudian berjuang bersama pasukan Muslim dalam Perang Yamamah, di mana ia berhasil membunuh Musailamah al-Kadzdzab, seorang nabi palsu, dengan tombaknya.

Perintah Allah untuk memaafkan dengan cara yang baik (shafh al-jamil) berkaitan dengan kematian Hamzah ini, dicantumkan dalam QS. An-Nahl ayat 126 : “dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu, akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.

Dari pemaparan tersebut di atas terlihat bahwa agama Islam sebagai agama Rohmatal Lil’alamiin sangat menganjurkan umatnya untuk mengedepankan pemberian maaf bagi orang yang telah melakukan kesalahan kepada dirinya. Maaf tersebut diberikan secara tulus dari lubuk hati yang paling dalam.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.