MENU
Banner SINATA.ID
Studi Ungkap Dating App Picu Burnout, Pengguna Rentan Alami Stres hing...
WA FB

Studi Ungkap Dating App Picu Burnout, Pengguna Rentan Alami Stres hingga Kesepian

Alih-alih menemukan hubungan baru, Fernanda justru merasa lebih kesepian.

T Editor : Tigor Munthe 15 Jun 2026 | 13:08 WIB
Studi Ungkap Dating App Picu Burnout, Pengguna Rentan Alami Stres hingga Kesepian
Aplikasi kencan. (Foto: Ist)

JAKARTA, Sinata.id – Aplikasi kencan digital seperti Tinder, Hinge, dan Bumble dinilai dapat memicu fenomena yang dikenal sebagai dating app burnout, kondisi kelelahan emosional akibat penggunaan aplikasi pencarian pasangan secara berlebihan.

Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengguna aplikasi kencan cenderung mengalami tingkat depresi, kecemasan, kesepian, dan tekanan psikologis yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya.

Direktur Relationships and Technology Lab di Arizona State University, Liesel Sharabi, mengatakan penggunaan aplikasi kencan sering kali menciptakan pola yang mirip dengan kelelahan kerja (burnout). 

Gejalanya meliputi kelelahan emosional, sikap sinis terhadap orang lain, hingga perasaan bahwa segala usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil.

"Orang-orang terus keluar dan kembali menggunakan aplikasi yang sama. Jika mereka benar-benar mendapatkan pasangan yang cocok dengan cepat, mereka tentu tidak akan terus berada di aplikasi tersebut," kata Sharabi, dilansir dari BBC, Senin (15/6/2026).

Fenomena ini dialami oleh banyak pengguna. Salah satunya Fernanda, seorang konsultan hubungan internasional berusia 29 tahun. 

Setelah sempat berhenti menggunakan aplikasi kencan selama dua tahun, ia memutuskan untuk kembali mencoba. Namun pengalaman yang didapat justru membuatnya merasa kewalahan.

Ia mengaku harus mengelola banyak percakapan sekaligus, terus-menerus memeriksa ponsel, serta merasa tertekan untuk selalu tampil menarik di depan calon pasangan. Alih-alih menemukan hubungan baru, Fernanda justru merasa lebih kesepian.

Penelitian yang dilakukan pada 2024 terhadap ratusan pengguna aplikasi kencan selama tiga bulan menemukan bahwa sebagian besar mengalami tanda-tanda burnout. 

Pengguna merasa lelah, kehilangan motivasi, serta mulai memandang interaksi di aplikasi secara tidak personal.

Para ahli menilai salah satu penyebab utama adalah sistem aplikasi yang menyerupai mekanisme permainan. 

Fitur geser (swipe) yang cepat dan hadiah yang tidak menentu membuat pengguna terus kembali membuka aplikasi, mirip seperti cara kerja mesin judi.

Selain itu, jumlah profil yang nyaris tak terbatas juga membuat banyak orang merasa terjebak dalam siklus yang berulang: mencocokkan profil, mengobrol, gagal membangun hubungan, lalu kembali mengulang proses yang sama.

Meski demikian, para peneliti tidak menyarankan pengguna untuk sepenuhnya meninggalkan aplikasi kencan. 

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.