Jakarta, Sinata.id – Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,1 persen sepanjang tahun 2025, melampaui capaian tahun sebelumnya yang sebesar 5,03 persen. Namun, angka tersebut sedikit di bawah proyeksi pemerintah yang menargetkan pertumbuhan di level 5,2 persen. Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis hari ini menunjukkan gambaran perekonomian dengan dinamika pertumbuhan yang beragam antar sektor.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers di Jakarta, mengungkapkan bahwa besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun. "PDB per kapita kita mencapai Rp83,7 juta atau setara dengan 5.083 dolar AS," jelas Amalia, Kamis (5/2/2026).
Dari sisi kinerja triwulanan, perekonomian menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan year-on-year (y-on-y) sebesar 5,39 persen pada triwulan IV-2025. Pertumbuhan tertinggi secara produksi pada periode tersebut dicatat oleh lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang melesat 8,98 persen. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi penopang utama dengan pertumbuhan mencapai 6,12 persen.
"Secara kuartalan, ekonomi triwulan IV-2025 tumbuh 0,86 persen dibanding triwulan III-2025, dengan kontribusi signifikan dari pengeluaran konsumsi pemerintah yang meningkat 37,68 persen," tambah Amalia.
Meski secara umum tumbuh, laporan BPS mengungkap adanya tekanan pada sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi sebesar 0,66 persen sepanjang tahun. Di sisi lain, sektor jasa, terutama 'jasa lainnya' dan 'jasa perusahaan', menjadi primadona dengan pertumbuhan masing-masing 9,93 persen dan 9,10 persen. Sektor transportasi dan pergudangan juga tetap menggeliat dengan pertumbuhan 8,78 persen.
Dua sektor dominan, yaitu industri pengolahan serta perdagangan besar dan eceran, tetap menunjukkan kinerja positif meski tidak spektakuler, dengan pertumbuhan berkisar 5,30 hingga 5,49 persen. Secara struktural, ekonomi nasional masih bertumpu pada lima lapangan usaha utama yang secara kolektif menyumbang 63,92 persen terhadap total PDB.
Dari aspek geografis, ketimpangan pertumbuhan antar pulau masih terlihat. Pulau Sulawesi memimpin dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi mencapai 6,23 persen, diikuti oleh Jawa (5,30 persen). Sementara itu, kelompok provinsi di Maluku dan Papua tercatat memiliki laju pertumbuhan terendah, yaitu 1,44 persen, mengisyaratkan perlunya percepatan pembangunan di kawasan timur Indonesia. Dominasi Pulau Jawa terhadap perekonomian nasional juga belum bergeser, dengan kontribusi sebesar 56,93 persen. [a46]
Berita Terkait
Sadri Lingga Resmi Pimpin PKB Aceh Singkil
12 Jun 2026
PGRI Banda Aceh Periode 2024-2029 Resmi Dilantik, Perkuat Profesionalisme Guru
11 Jun 2026
Perubahan ke 3 UU Polri Diyakini Perkuat Peran Pengawasan Kompolnas
10 Jun 2026
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Driver Online Minta Potongan Komisi Diturunkan
10 Jun 2026
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, GMNI DKI Jakarta Kritik Kinerja Pemerintah
10 Jun 2026
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.