MENU
Tangis Pengungsi Bireuen di Tenda Darurat: “Mak, Kapan Kita Pulang?”
WA FB
Regional

Tangis Pengungsi Bireuen di Tenda Darurat: “Mak, Kapan Kita Pulang?”

R Editor : Redaksi Sinata | 19 Dec 2025 | 18:38 WIB
Tangis Pengungsi Bireuen di Tenda Darurat: “Mak, Kapan Kita Pulang?”
Tangis Mariani (57) tak kunjung mengering sejak bencana itu terjadi. Perempuan yang kini menjadi bagian dari pengungsi Bireuen tersebut masih mengingat jelas detik-detik saat banjir bandang dan longsor datang tiba-tiba, menghancurkan Dusun Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen—kampung yang puluhan tahun menjadi saksi ia membesarkan anak-anaknya. (Masakini.co)

Meski demikian, ia bersyukur karena tidak ada korban jiwa dalam bencana besar itu.

Keselamatan warga, menurutnya, tak lepas dari peran perangkat desa yang lebih dulu meminta warga meninggalkan rumah sebelum bencana terjadi.

“Kalau tidak disuruh keluar duluan, entah bagaimana nasib kami,” ucapnya.

Data di posko mencatat, jumlah kepala keluarga yang mengungsi diperkirakan lebih dari 400 KK.

Bantuan logistik terus berdatangan.

Kebutuhan dasar seperti beras, telur, mi instan, ikan kaleng, hingga makanan siap saji telah disalurkan untuk mencukupi kebutuhan harian pengungsi.

“Untuk makan sehari-hari, Alhamdulillah ada,” kata Mariani.

Anak-anak juga menerima bantuan berupa makanan ringan, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya.

Kehadiran relawan dan warga yang datang membantu menjadi penguat di tengah keterbatasan dan ketidakpastian.

Di sektor kesehatan, layanan medis disiagakan setiap hari.

Dokter umum hingga dokter spesialis bergantian hadir untuk memantau kondisi pengungsi.

“Kalau soal kesehatan, dokter selalu ada,” ujarnya.

Namun, menjelang bulan puasa, kekhawatiran semakin besar.

Mariani dan warga lainnya berharap pemerintah segera membangun hunian sementara agar perempuan dan anak-anak tak terus hidup dalam kondisi darurat.

Selain itu, warga Dusun Balee Panah juga meminta pembangunan tanggul sungai agar bencana serupa tak kembali merenggut kampung mereka.

“Kami tidak ingin kehilangan rumah lagi. Kami ingin hidup tenang,” kata Mariani.

Di balik wajah letih dan mata sembab, ia menyampaikan satu harapan sederhana, agar kampungnya tidak mati, agar kehidupan bisa kembali tumbuh di tanah yang pernah mereka sebut rumah.

“Kami mohon, jangan biarkan kampung ini hilang selamanya,” ujarnya. [a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.