Jakarta, Sinata.id – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik yang disampaikan Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Teddy menegaskan seluruh perjalanan dinas Presiden dilakukan dengan prinsip efisiensi anggaran dan tetap mengedepankan kepentingan nasional.
Melalui akun media sosial resmi Sekretariat Kabinet, Teddy menjelaskan bahwa apabila terdapat biaya tambahan dalam perjalanan luar negeri Presiden, biaya tersebut ditanggung secara pribadi oleh Presiden Prabowo dan tidak dibebankan kepada negara.
Menurut Teddy, jumlah anggota rombongan yang mendampingi Presiden dalam kunjungan kerja ke luar negeri saat ini juga lebih sedikit dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya.
“Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya penghematan dan optimalisasi penggunaan anggaran negara,” paparnya.
Ia menilai kebijakan penyederhanaan rombongan berhasil menekan biaya perjalanan tanpa mengurangi efektivitas agenda diplomasi maupun kerja sama internasional yang dijalankan Presiden.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan komitmen pemerintah dalam menerapkan tata kelola anggaran yang efisien, transparan, dan akuntabel di tengah tantangan ekonomi global.
Perdebatan mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo semakin mengemuka setelah mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, menyampaikan kritik terhadap frekuensi lawatan internasional Presiden yang dinilainya terlalu sering.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyatakan bahwa kritik yang disampaikan Dino tidak sepenuhnya didasarkan pada informasi yang akurat.
“Di era demokrasi dan keterbukaan, tentu kita membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi seperti Dino Patti Djalal. Namun, kritik juga harus berbasis data dan informasi yang tepat,” kata Habiburokhman, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, kritik tersebut tidak memberikan solusi yang konstruktif dan cenderung mengabaikan kondisi geopolitik serta geoekonomi global yang saat ini terus berkembang.
Habiburokhman juga menanggapi saran Dino yang mengusulkan agar Presiden lebih banyak menerima kunjungan pemimpin negara lain ke Indonesia dibandingkan melakukan lawatan ke luar negeri.
Ia berpendapat bahwa dalam situasi global yang dinamis, seorang kepala negara perlu aktif melakukan diplomasi secara langsung untuk memperjuangkan kepentingan nasional dan memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.