Pematangsiantar, Sinata.id - Capaian penemuan kasus Tuberkulosis (TB) di Kota Pematangsiantar hingga Maret 2026 masih tergolong rendah. Dari target tahunan yang telah ditetapkan, fasilitas kesehatan di kota ini baru menemukan 242 kasus atau sekitar 15 persen, sehingga menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan.
Data periode Januari hingga Maret 2026 menunjukkan tren penemuan kasus yang belum maksimal. Pada Januari tercatat 99 kasus, Februari 81 kasus, dan Maret 62 kasus. Sementara itu, untuk periode April hingga Desember, belum terlihat adanya penambahan laporan penemuan kasus.
Sejumlah puskesmas mencatat temuan yang cukup tinggi. Puskesmas Kartini menjadi yang tertinggi dengan 16 kasus, disusul Puskesmas Martoba 15 kasus, serta Puskesmas Khezan dan Pasaribun masing-masing 11 kasus. Puskesmas lainnya masih berada di bawah angka tersebut.
Di tingkat rumah sakit, RS TK IV 01.07.01 mencatat 38 kasus TB, sementara RS Efarina Etaham Pematangsiantar menemukan 22 kasus. Namun, beberapa rumah sakit lainnya masih mencatat nol penemuan kasus, yang menjadi catatan penting dalam evaluasi kinerja fasilitas kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pematangsiantar, Misran, melalui pengelola data TB, Watini Simatupang, menyampaikan bahwa capaian 15 persen hingga Maret menunjukkan perlunya peningkatan skrining dan pelacakan kasus di tengah masyarakat.
Menurutnya, deteksi dini menjadi kunci utama dalam pengendalian TB, sehingga peran aktif puskesmas, rumah sakit, serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk menemukan penderita sejak awal.
“Penemuan kasus TB harus terus ditingkatkan agar penyebaran penyakit menular ini bisa dikendalikan. Fasilitas kesehatan diharapkan lebih aktif melakukan skrining dan pelaporan berdasarkan data SITB TB 03 per April 2026,” kata Watini, Rabu (8/4/2026).
Watini menegaskan, masyarakat yang mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, penurunan berat badan, keringat malam, dan sesak napas diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.
“Jika mengalami batuk lebih dari dua minggu, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan dan pengobatan TB tersedia gratis, sehingga masyarakat tidak perlu takut atau menunda berobat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjalani pengobatan TB secara teratur hingga tuntas agar tidak menularkan penyakit kepada keluarga maupun lingkungan sekitar.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.