Sinata.id - Dalam sejarah Kepolisian Republik Indonesia, jarang ada sosok yang meninggalkan gema ketegasan sekuat Jenderal Polisi (Purn) Sutanto.
Kalimatnya pendek, tapi menggetarkan: “Tertibkan, atau Anda saya copot!” Bagi anggota yang bermain-main dengan jabatan, itu adalah peringatan keras.
Bagi bandar judi, mafia migas, dan pelaku kejahatan terorganisir, itu merupakan lonceng bahaya.
Dari Medan: Awal Reputasi Sang Pembersih
Nama Sutanto mulai diperhitungkan saat menjabat Kapolda Sumatera Utara. Ketika Medan dikenal sebagai ladang subur perjudian, ia memilih jalur konfrontatif: penertiban total tanpa kompromi.
Lapak-lapak judi yang sebelumnya beroperasi terang-terangan mendadak gulung tikar. Pesannya jelas—hukum tidak bisa dinegosiasikan, apalagi diperjualbelikan.
Pendekatan itu bukan sekadar operasi rutin, melainkan penegasan bahwa aparat yang bermain dua kaki tak akan diberi ruang. Reputasi sebagai “musuh abadi” bandar judi pun melekat.
100 Hari Mengguncang Indonesia
Pasca dilantik sebagai Kapolri pada 8 Juli 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sutanto tak menunggu lama untuk bergerak. Ia langsung mencanangkan Program 100 Hari Pemberantasan Judi.
Efeknya terasa serentak. Dari kota besar hingga gang sempit, aktivitas perjudian mendadak “tiarap”. Instruksinya tegas: berantas sampai ke akar, termasuk jika ada oknum yang membekingi.
Tak hanya membidik pelaku lapangan, ia juga menyoroti rekening janggal di internal Polri. Mutasi dan pencopotan bukan ancaman kosong. Prinsipnya sederhana: institusi harus bersih sebelum menertibkan masyarakat.
Menghantam Mafia Migas dan Premanisme
Perang Sutanto tak berhenti di meja judi. Ia mengarahkan sorotan ke jaringan mafia bahan bakar minyak dan migas yang merugikan negara dalam skala besar.
Sutanto memahami pentingnya rantai komando yang solid. Operasi demi operasi digelar untuk memutus praktik ilegal yang melibatkan jaringan rumit dan berlapis.
Premanisme di pelabuhan, terminal, dan titik-titik ekonomi strategis pun disasar. Bagi Sutanto, keamanan publik bukan komoditas tawar-menawar.
Menutup Ruang Gerak Terorisme
Di era kepemimpinannya, Polri juga mencatat tonggak penting dalam pemberantasan terorisme.
Tahun 2005, aparat berhasil mengepung dan melumpuhkan gembong teroris paling dicari di Asia Tenggara, Azahari Husin, di Batu, Jawa Timur.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.