Sinata.id - Thailand memperketat pengawasan di perbatasannya. Pemerintah Bangkok memutuskan membatasi arus ekspor bahan bakar dan persenjataan melalui pos lintas batas menuju Laos, menyusul kekhawatiran barang-barang tersebut dialihkan ke Kamboja di tengah meningkatnya eskalasi konflik antarnegara di kawasan itu.
Dalam pengarahan militer gabungan, otoritas pertahanan Thailand menyebut telah mengantongi informasi intelijen yang menunjukkan adanya pengalihan logistik strategis, termasuk bahan bakar dan perlengkapan militer, yang masuk ke Laos lalu diteruskan ke Kamboja.
Pembatasan mulai diberlakukan di salah satu pos perbatasan sejak Senin (15/12/2025).
Langkah pengamanan juga diperluas ke jalur laut.
Angkatan Laut Thailand menyatakan akan mengajukan permintaan resmi kepada Dewan Keamanan Nasional agar membatasi pengangkutan barang komersial oleh kapal berbendera Thailand menuju Kamboja.
Dewan tersebut dijadwalkan menggelar rapat pada Selasa untuk membahas kebijakan itu.
Asisten Juru Bicara Angkatan Laut Thailand, Nara Khunthothom, menegaskan pembatasan tersebut bukanlah blokade penuh.
Menurutnya, kebijakan ini dirancang secara selektif dan tidak akan mengganggu kapal dari negara lain yang berlayar di kawasan tersebut.
“Kami memfokuskan kebijakan ini pada pencegahan penggunaan kapal berbendera Thailand untuk mengangkut bahan bakar dan senjata yang berpotensi dimanfaatkan dalam konflik,” ujar Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri.
Pembatasan itu menjadi bagian dari strategi Thailand untuk menekan kemampuan tempur Kamboja, ketika pertempuran di sepanjang garis perbatasan yang disengketakan, membentang sekitar 800 kilometer, memasuki hari kesembilan.
Situasi di lapangan terus memanas. Pada akhir pekan lalu, Angkatan Udara Thailand dilaporkan mengerahkan jet tempur untuk menggempur sebuah gedung kasino yang dituding berfungsi sebagai fasilitas militer, serta menghancurkan dua jembatan yang diyakini menjadi jalur distribusi senjata dan pergerakan pasukan tambahan.
Di sisi lain, pemerintah Kamboja menuding Thailand telah menjatuhkan dua bom menggunakan jet tempur di dekat sebuah kamp pengungsi di Provinsi Siem Reap pada Senin pagi, tuduhan yang menambah ketegangan diplomatik kedua negara.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menegaskan operasi militer akan terus dilanjutkan hingga ancaman terhadap wilayah dan warga Thailand dinilai benar-benar mereda.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.