Ia juga memastikan belum ada kesepakatan gencatan senjata baru, meski upaya mediasi dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada akhir pekan lalu.
Gelombang kekerasan terbaru sejak 7 Desember ini telah menelan korban besar.
Lebih dari 20 orang dilaporkan tewas, terdiri atas 16 prajurit Thailand dan 12 warga sipil Kamboja.
Selain itu, lebih dari setengah juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi.
Hingga kini, otoritas Kamboja belum merilis data resmi mengenai korban dari pihak militernya.
Konflik ini disebut sebagai eskalasi paling serius sejak bentrokan hebat selama lima hari pada Juli lalu, yang kala itu berhasil dihentikan melalui gencatan senjata hasil fasilitasi Amerika Serikat.
Kesepakatan tersebut sempat dibayangi ancaman penghentian perundingan dagang dengan kedua negara.
Ketegangan terbaru juga menggugurkan komitmen “Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur” yang ditandatangani para pemimpin Thailand dan Kamboja dalam pertemuan puncak regional di Malaysia pada Oktober lalu, sebuah kesepakatan yang kini praktis kehilangan pijakan di tengah dentuman senjata yang kembali menggema di perbatasan. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.