MENU
Tolak Konversi Kebun Teh ke Sawit, Generasi Muda Sidamanik Surati Hold...
WA FB
News

Tolak Konversi Kebun Teh ke Sawit, Generasi Muda Sidamanik Surati Holding dan Dirut PTPN 4

G Editor : Gunawan Purba | 11 Jul 2025 | 15:39 WIB
Tolak Konversi Kebun Teh ke Sawit, Generasi Muda Sidamanik Surati Holding dan Dirut PTPN 4
Banjir di Nagori Tigabolon Kecamatan Sidamanik beberapa waktu yang lalu.

Simalungun, Sinata.id - Generasi muda Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang bergabung di Generasi Muda Peduli Sidamanik (GMPS) menolak konversi kebun teh menjadi kebun kelapa sawit di wilayah Sidamanik.

Sebagai bentuk penolakan, GMPS layangkan surat berisi protes keras terhadap "prilaku" PTPN 4 yang "ngotot" melakukan konversi.

Surat protes ditujukan GMPS ke Direktur Utama (Dirut) Holding PTPN 3, Dirut Palm Co PTPN 4, dan Head Regional II PTPN 4. Surat protes bernomor 17/GMPS/Reg2-n4/Juli 2025, tertanggal 4 Juli 2025.

Selain melayangkan surat protes, penolakan juga dilakukan GMPS dengan membentang (memasang) sejumlah spanduk di pinggir ruas jalan pada Jalan Lintas Siantar - Sidamanik.

[caption id="attachment_5233" align="alignnone" width="300"] Spanduk GMPS berisi penolakan konversi kebun teh ke sawit.[/caption]

"Kami GMPS menyampaikan protes keras kepada PTPN 4 Regional 2 yang  akan kembali melakukan penanaman kelapa sawit di Kebun Bah Butong Afdeling III dan VI," sebut Jan Rusdin Sinaga, Ketua GMPS, Jumat 11 Juli 2025.

Kata Jan Rusdin, pihaknya mengetahui PTPN 4 akan melakukan konversi, beranjak dari surat Manager Kebun dan Pabrik Teh PTPN 4 Regional II Nomor :2KTH/X/08/VII/2025 tertanggal 1 Juli 2025 yang berisi tentang sosialisasi penanaman ulang kelapa sawit.

Sama seperti kekhawatiran warga lainnya, Jan Rusdin Sinaga juga menyebut, bila konversi terjadi, maka akan menyebabkan banjir.

"Setelah adanya pergantian tanaman teh  jadi kelapa sawit, secara nyata membawa musibah bencana banjir kepada masyarakat di Sidamanik. Karena setiap turun hujan selalu terjadi banjir yang cukup besar yang mengganggu lalu lintas dan perladangan masyarakat," ujarnya.

Katanya, setelah Kebun Marjandi dikonversi dari kebun teh menjadi kebun kelapa sawit, banjir kerap melanda kawasan Marjandi bila hujan deras turun.

"Secara kasat mata dapat terlihat jelas akibat dari pergantian tanaman teh jadi kelapa sawit yang mengakibatkan banjir adalah pada perkebunan Marjandi yang  setiap hujan turun selalu banjir besar, yang sampai ke jalan lintas Sumatera. Sehingga setiap turun hujan lalu lintas harus berhenti dan menunggu air banjir surut," ungkap Jan Rusdin.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.