MENU
Trump Desak Negara-Negara Besar Turunkan Armada Perang ke Selat Hormuz
WA FB
Berita

Trump Desak Negara-Negara Besar Turunkan Armada Perang ke Selat Hormuz

R Editor : Redaksi Sinata | 15 Mar 2026 | 19:55 WIB
Trump Desak Negara-Negara Besar Turunkan Armada Perang ke Selat Hormuz
Donald Trump. (Ist)

Washington DC, Sinata.id - Ketegangan perang di Timur Tengah kini memasuki fase baru yang lebih berbahaya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka meminta negara-negara dunia mengirim kapal perang ke Teluk Persia untuk membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz yang kini nyaris lumpuh akibat konflik dengan Iran.

Seruan itu muncul ketika jalur pelayaran energi paling vital di dunia tersebut berada dalam kondisi tidak stabil setelah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki minggu ketiga.

Trump mengatakan banyak negara yang terdampak gangguan di jalur tersebut seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga keamanan pelayaran.

“Banyak negara akan mengirim kapal perang bersama Amerika Serikat untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan aman,” tulis Trump dalam pernyataannya di media sosial, dikutip Minggu (15/3/2026).

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Perairan sempit yang memisahkan Iran dan Oman itu merupakan salah satu chokepoint energi paling penting di planet ini.

Sekitar 20% pengiriman minyak dunia melewati jalur tersebut setiap hari. Jika selat itu terganggu, dampaknya bisa langsung terasa pada harga energi global.

Situasi semakin memanas setelah Iran mengisyaratkan pembatasan lalu lintas kapal milik negara yang dianggap sebagai musuhnya. Akibatnya, sejumlah tanker minyak menunda pelayaran dan pasar energi global langsung bergejolak.

Dalam seruannya, Trump secara terang-terangan mendorong beberapa kekuatan dunia untuk ikut mengirim armada militer ke kawasan tersebut.

Negara yang disebut antara lain China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. Washington berharap negara-negara tersebut membantu memastikan jalur pelayaran tetap aman bagi kapal komersial.

Langkah itu sekaligus menandai upaya Amerika membentuk koalisi militer internasional untuk mengawal tanker minyak yang melintas di wilayah konflik.

Namun hingga kini belum ada kepastian negara mana yang benar-benar akan mengirim kapal perang ke kawasan Teluk.

Kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran bukan tanpa alasan. Sejak perang pecah, beberapa kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan drone dan sabotase laut di sekitar Selat Hormuz.

Analis militer memperingatkan bahwa ancaman ranjau laut, drone bersenjata, hingga kapal cepat Iran bisa membuat jalur tersebut sangat berbahaya bagi kapal komersial.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.