MENU
10 Negara Termiskin di Dunia 2025 Versi Global Finance, Indonesia Term...
WA FB
Nasional

10 Negara Termiskin di Dunia 2025 Versi Global Finance, Indonesia Termasuk?

R Editor : Redaksi Sinata | 18 Nov 2025 | 19:11 WIB
10 Negara Termiskin di Dunia 2025 Versi Global Finance, Indonesia Termasuk?
Sudan Selatan, Burundi, hingga Republik Afrika Tengah menempati daftar negara termiskin di dunia pada tahun 2025. (Ilustrasi)

Sinata.id - Di tengah melonjaknya kekayaan global dan pesatnya kemajuan teknologi, jurang ketimpangan justru semakin melebar. Jutaan penduduk di sejumlah negara masih terperangkap dalam kemiskinan ekstrem akibat konflik berkepanjangan, rapuhnya pemerintahan, hingga krisis pangan yang tak berkesudahan, menjadikan Sudan Selatan, Burundi, dan Republik Afrika Tengah berada di posisi terburuk dalam daftar negara termiskin di dunia.

Gegap gempita kemajuan teknologi dan geliat ekonomi global yang terus mencetak rekor, masih saja ada realitas pahit yang tak bisa dipungkiri. Jutaan manusia di berbagai belahan dunia masih berjuang hanya untuk bertahan hidup.

Gambaran tersebut paling terlihat di negara-negara yang terkunci dalam lingkaran konflik, rapuh secara politik, dan tercekik minimnya kesempatan ekonomi.

Pandemi COVID-19, lonjakan inflasi dunia, serta pemangkasan drastis bantuan internasional membuat luka sosial semakin menganga.

Ironinya, di saat para negara adidaya menikmati ledakan kekayaan, banyak negara justru semakin tenggelam dalam kemiskinan ekstrem.

Burundi, Sudan Selatan, hingga Republik Afrika Tengah menjadi potret bagaimana ketidakstabilan politik dapat meruntuhkan segala upaya pembangunan.

Laporan Global Finance kembali menyoroti kesenjangan tersebut melalui tolok ukur Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita berbasis purchasing power parity (PPP), metode yang menilai kemampuan daya beli masyarakat setelah disesuaikan biaya hidup masing-masing negara.

Namun angka bukan satu-satunya cerita. Di balik statistik itu, ada jejak sejarah panjang yang penuh luka, seperti kolonialisme, perang saudara, kekeringan beruntun, hingga pemerintahan yang rapuh.

Di negara yang gagal menyediakan pendidikan layak, kemiskinan bukan sekadar masalah hari ini, melainkan warisan yang terus diwariskan antar-generasi.

Pandemi menjadi babak kelam berikutnya. Di kawasan dengan sektor informal yang mendominasi, ketiadaan perlindungan sosial membuat jutaan keluarga jatuh bebas tanpa pegangan.

Bank Dunia memprediksi generasi pelajar dari negara miskin dan berkembang kehilangan sekitar 10% potensi pendapatan masa depan mereka.

Sebelum dunia tersapu virus, jumlah penduduk miskin ekstrem sempat turun drastis dari 35% pada 1990 menjadi di bawah 10%.

Namun COVID-19 membalikkan pencapaian tiga dekade tersebut.

Pada akhir 2022, sekitar 200 juta orang kembali terjun ke jurang kemiskinan ekstrem.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.