MENU
Benaya Harobu Menangis Saat Bedah Buku Reset Indonesia di Medan
WA FB
Nasional

Benaya Harobu Menangis Saat Bedah Buku Reset Indonesia di Medan

G Editor : Gunawan Purba | 06 Feb 2026 | 08:28 WIB
Benaya Harobu Menangis Saat Bedah Buku Reset Indonesia di Medan
Dandhy Laksono dan Benaya Harobu

Medan, Sinata.id - Suasana haru mewarnai kegiatan bedah buku Reset Indonesia yang menghadirkan penulis Benaya Harobu dan jurnalis investigatif Dhandy Dwi Laksono di Serayu Cafe and Space, Jalan Sei Serayu, Medan, Kamis (5/2/2026).

Di sana, Benaya Harobu tidak kuasa menahan tangis saat mengungkap ketidakadilan dalam dunia pendidikan yang masih terjadi di Indonesia.

Bedah buku ini menjadi ruang diskusi publik untuk membahas isu-isu demokrasi, keadilan sosial, serta keberpihakan terhadap kelompok rentan. Diskusi berlangsung terbuka dan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, akademisi, hingga pegiat sosial.

Kisah Pendidikan yang Menggugah Emosi

Dalam pemaparannya, Benaya Harobu menyinggung peristiwa tragis yang menimpa seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia menyampaikan bahwa anak tersebut nekat mengakhiri hidup karena orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis dan pulpen, serta harus menanggung biaya sekolah sebesar Rp1,2 juta per tahun.

Benaya menyampaikan kisah itu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Emosinya pecah saat menegaskan bahwa ketidakadilan dalam sistem pendidikan masih menjadi luka mendalam bagi masyarakat kecil.

“Bagaimana saya tidak terpukul dengan peristiwa ini. Adik saya harus meregang nyawa akibat ketidakadilan dalam sistem pendidikan. Ini menjadi tamparan keras bagi kita yang mau berpikir jernih,” kecamnya.

Menurut Benaya, kisah tersebut menjadi refleksi penting bahwa negara belum sepenuhnya hadir untuk menjamin hak dasar pendidikan bagi seluruh warga.

Literasi Kritis sebagai Kekuatan Demokrasi

Benaya menjelaskan bahwa buku Reset Indonesia lahir melalui riset panjang dengan pendekatan naratif. Ia dan Dhandy Dwi Laksono berupaya menyampaikan isu-isu struktural secara lebih membumi agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.

“Literasi kritis menjadi kunci untuk memperkuat partisipasi publik dalam demokrasi,” ucap Benaya.

Ia menilai masyarakat perlu terus membangun keberanian untuk bersuara dan mempertanyakan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Menurutnya, membaca dan berdiskusi menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif.

Dukungan Isu Sosial dan Lingkungan

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.