MENU
BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem hingga 26 Januari 2026 di Indonesia
WA FB
Nasional

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem hingga 26 Januari 2026 di Indonesia

J Editor : Jansen Siahaan | 21 Jan 2026 | 10:26 WIB
BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem hingga 26 Januari 2026 di Indonesia
Ilustrasi cuaca ekstrem. (antara)

Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan sepanjang daerah konvergensi maupun konfluensi.

Dalam sepekan ke depan, BMKG juga mengungkapkan adanya potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia. Fenomena ini berdampak pada meningkatnya potensi cuaca ekstrem di wilayah selatan Indonesia, terutama Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa.

Peringatan Dini BMKG

Periode 20–22 Januari 2026

Wilayah berpotensi hujan intensitas sedang: Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Status Siaga (hujan lebat–sangat lebat): Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Status Awas (hujan sangat lebat–ekstrem): Nusa Tenggara Timur.

Potensi angin kencang: Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Periode 23–26 Januari 2026

Wilayah berpotensi hujan intensitas sedang: Sumatera Selatan, Bengkulu, DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah. Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diperkirakan mengalami peningkatan intensitas hujan hingga akhir Januari 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam keterangan persnya menyampaikan bahwa gangguan atmosfer yang terpantau saat ini memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan.

“Kondisi ini dapat memicu potensi banjir, tanah longsor, serta gangguan pada sektor transportasi di wilayah terdampak,” ujar Faisal di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan adanya sejumlah faktor teknis yang mempengaruhi cuaca sepekan ke depan, salah satunya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot dan tekanan udara 1.001 hPa.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.