MENU
BRIN: Lubang Raksasa di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, Ini Penyebabnya
WA FB
Nasional

BRIN: Lubang Raksasa di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, Ini Penyebabnya

J Editor : Jansen Siahaan | 21 Feb 2026 | 12:29 WIB
BRIN: Lubang Raksasa di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, Ini Penyebabnya
Foto udara memperlihatkan longsoran tanah raksasa di Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. (detik)

Aceh Tengah, Sinata.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa lubang besar yang terbentuk di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, bukan merupakan fenomena sinkhole.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan secara geologi wilayah tersebut tidak tersusun oleh batu gamping yang lazim menjadi penyebab sinkhole.

“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah sehingga mudah tergerus dan runtuh,” ujar Adrin dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).

Menurut dia, susunan tanah di Pondok Balek didominasi endapan piroklastik aliran berupa material tufa dari aktivitas Gunung Geurendong yang sudah tidak aktif. Material ini tergolong muda secara geologis dan belum mengalami pemadatan sempurna sehingga masih rapuh.

Proses Terjadi Sejak Lama

Berdasarkan analisis citra satelit Google Earth sejak 2010, BRIN menemukan adanya lembah atau ngarai kecil di lokasi tersebut. Seiring waktu, proses erosi dan longsoran terus berlangsung hingga lembah melebar dan memanjang, lalu membentuk lubang besar seperti yang terlihat saat ini.

Adrin juga menduga faktor gempa bumi turut mempercepat proses tersebut. Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang terjadi di Aceh Tengah pada 2013 kemungkinan telah memperlemah struktur lereng.

“Faktor gempa bumi diduga berkontribusi mempercepat proses ketidakstabilan lereng,” ujarnya.

Hujan Lebat Jadi Pemicu Utama

Selain faktor geologi dan gempa, hujan lebat dinilai menjadi pemicu utama terbentuknya lubang besar tersebut. Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh oleh air sehingga kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh.

Kemiringan lereng yang curam akibat longsoran sebelumnya juga memperparah kondisi. Di sisi lain, aliran air permukaan dari saluran irigasi perkebunan ikut mempercepat proses longsor.

“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” kata Adrin.

Ia juga mengemukakan kemungkinan adanya aliran air tanah pada batas antara lapisan lahar yang lebih padat di dasar tebing dengan batu tufa di atasnya. Penggerusan pada kaki lereng oleh air tanah dapat membuat bagian atas tebing kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.