MENU
Bukan Hanya Rakyat Biasa, Dua Cucu Mahfud MD Juga Keracunan MBG
WA FB
Nasional

Bukan Hanya Rakyat Biasa, Dua Cucu Mahfud MD Juga Keracunan MBG

R Editor : Redaksi Sinata | 01 Oct 2025 | 18:34 WIB
Bukan Hanya Rakyat Biasa, Dua Cucu Mahfud MD Juga Keracunan MBG
Mahfud MD. (Screenshot YT Terus Terang)

Sinata.id - Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi sorotan. Kali ini, kisah mengejutkan datang dari mantan Menko Polhukam sekaligus cawapres 2024, Mahfud MD. Bukan hanya rakyat biasa, tetapi dua cucu Mahfud MD sendiri ikut menjadi korban.

Dalam sebuah video di kanal YouTube pribadinya berjudul “Bereskan Tata Kelola MBG”, Mahfud menuturkan pengalaman pahit tersebut. Dengan nada serius, ia mengatakan cucu-cucunya yang bersekolah di Yogyakarta mengalami muntah-muntah usai menyantap makan siang dari program MBG.

“Cucu saya juga keracunan. Ya, di Jogja. Bahkan satu kelas ada delapan orang langsung muntah-muntah,” ungkap Mahfud dalam rekaman itu, Rabu (1/10/2025).

Dirawat Empat Hari di Rumah Sakit

Menurut Mahfud, dari delapan siswa yang keracunan, enam orang dan salah satu cucunya sempat dirawat sehari lalu dipulangkan.

Namun berbeda dengan cucu lainnya yang justru harus bertahan hingga empat hari di rumah sakit akibat kondisinya lebih parah.

“Yang satu bisa dirawat di rumah, tapi yang satunya lagi harus empat hari di rumah sakit. Keduanya bersaudara, beda kelas, tapi sekolahnya sama,” terang Mahfud.

Mahfud Singgung Presiden Prabowo

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menilai kasus keracunan MBG hanya sekitar 0,0017 persen dari total 30 juta penerima manfaat.

Namun Mahfud menolak melihat persoalan ini sekadar hitungan statistik.

Ia menegaskan, nyawa dan kesehatan manusia tidak bisa disepelekan dengan angka kecil.

“Jutaan pesawat terbang lalu lalang setiap hari, tapi ketika satu saja jatuh, dunia gempar. Padahal secara persentase, itu lebih kecil. Karena ini menyangkut nyawa,” tegasnya.

Program Mulia, Tapi Tata Kelola Dipertanyakan

Mahfud menilai niat program MBG sejatinya mulia, yakni memberikan makanan bergizi untuk anak-anak dan ibu hamil.

Namun, tata kelola program ini menurutnya masih jauh dari ideal.

Ia menyoroti ketiadaan regulasi yang jelas, mulai dari dasar hukum hingga mekanisme pelaksanaan di lapangan.

Bahkan, kata Mahfud, sering kali sekolah atau guru yang bukan bagian panitia justru dipaksa turun tangan ketika terjadi insiden, termasuk saat ada alat makan yang hilang atau harus dibersihkan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.