Namun, hingga kini belum ada hasil final. “Masih dibahas, mungkin sore atau malam ini keluar keputusan,” ujarnya saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan.
Simon tak menyebutkan SPBU mana saja yang telah menyatakan siap membeli, hanya menegaskan bahwa “ada beberapa yang sudah menunjukkan minat.”
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, tetap optimis negosiasi akan menemukan titik terang dalam waktu dekat. Ia mengatakan, perubahan skema negosiasi, dari mekanisme lelang menjadi pembahasan langsung antara Pertamina dan masing-masing badan usaha, akan mempercepat kesepakatan.
“Dengan cara baru ini, kita harap proses lebih efektif dan tak ada lagi peserta yang mundur di tengah jalan,” ujarnya di sela Minerba Convex 2025.
Laode juga memperkirakan pasokan BBM di SPBU swasta bakal kembali normal paling lambat akhir Oktober 2025. “Saya optimis, akhir bulan ini kebutuhan BBM mereka bisa terisi,” katanya penuh keyakinan.
Dua Kargo BBM Tak Laku
Ironisnya, dua kargo base fuel impor Pertamina yang sejatinya disiapkan untuk SPBU swasta justru belum terserap sama sekali. Dua pengiriman masing-masing sebanyak 100.000 barel, yang tiba pada 24 September dan 2 Oktober 2025, belum juga laku dijual.
Vivo disebut membatalkan pesanan 40.000 barel karena menyoal kandungan etanol 3,5 persen, sedangkan BP-AKR mengeluhkan tidak adanya certificate of origin.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, Pertamina Patra Niaga masih memiliki sisa kuota impor sebesar 34 persen atau sekitar 7,52 juta kiloliter untuk tahun 2025.
Di sisi lain, operator SPBU swasta justru menuntut tambahan pasokan RON 92 sebanyak 1,2 juta barel dan RON 98 sebanyak 270.000 barel agar stok tetap aman hingga akhir tahun. [zainal/a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.