MENU
Fenomena El Nino 2026 Berpotensi Picu Kemarau Ekstrem
WA FB
Nasional

Fenomena El Nino 2026 Berpotensi Picu Kemarau Ekstrem

T Editor : Tumpal Pandapotan | 22 Mar 2026 | 22:58 WIB
Fenomena El Nino 2026 Berpotensi Picu Kemarau Ekstrem
Ilustrasi

Jakarta, Sinata.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan potensi terjadinya fenomena El Nino berkekuatan tinggi pada 2026 yang dapat memicu musim kemarau lebih panjang dan kering di Indonesia.

Fenomena yang oleh peneliti dikategorikan ekstrem ini berisiko mengganggu pola cuaca global serta menimbulkan dampak signifikan di berbagai wilayah Tanah Air.

El Nino merupakan anomali iklim berupa peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Kondisi tersebut menyebabkan pergeseran pembentukan awan hujan menjauh dari Indonesia, sehingga curah hujan berpotensi menurun, terutama saat intensitas fenomena menguat.

BRIN memproyeksikan penguatan El Nino pada 2026 berpotensi terjadi bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), yakni kondisi ketika suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa mendingin.

Kombinasi kedua fenomena ini dinilai dapat memperparah penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Berdasarkan hasil pemodelan iklim global, fenomena tersebut diperkirakan mulai berkembang pada April 2026 dan berlangsung hingga Oktober, bertepatan dengan periode musim kemarau.

Rentang waktu ini dinilai krusial karena berpotensi memperbesar dampak kekeringan dibandingkan periode lainnya.

Meski demikian, BRIN menilai dampak El Nino tidak akan merata. Wilayah selatan Indonesia, seperti Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, diperkirakan lebih rentan mengalami kondisi kering lebih awal.

Sebaliknya, sejumlah wilayah di Indonesia timur, termasuk Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, masih berpotensi menerima curah hujan relatif tinggi.

Perbedaan karakter dampak tersebut memunculkan risiko bencana yang beragam. Di wilayah barat dan selatan, kekeringan berpotensi mengancam sentra produksi pangan, khususnya di kawasan Pantai Utara Jawa.

Selain itu, peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan terjadi, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Sementara itu, wilayah timur Indonesia perlu mengantisipasi kemungkinan banjir dan longsor akibat curah hujan yang tetap tinggi selama periode yang sama.

Peneliti Pusat Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi berbagai potensi dampak tersebut.

Ia mengingatkan bahwa ancaman kekeringan dapat berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah lumbung padi.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.