MENU
Isu Relokasi Sibolga Viral, Wali Kota Bantah Ada Ancaman ke Warga
WA FB
Regional

Isu Relokasi Sibolga Viral, Wali Kota Bantah Ada Ancaman ke Warga

J Editor : Jansen Siahaan | 04 Mar 2026 | 18:03 WIB
Isu Relokasi Sibolga Viral, Wali Kota Bantah Ada Ancaman ke Warga
Lokasi pembangunan hunian tetap (huntap). (huntapsibolga)

Sibolga, Sinata.id - Pemerintah Kota (Pemko) Sibolga mengancam warga yang menolak relokasi dari kawasan rawan longsor tidak akan mendapat bantuan pemerintah pusat memicu polemik di tengah masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Sibolga, Syukri Nazri Penarik, membantah adanya ancaman dari pihak Pemko. Ia menegaskan, lokasi pembangunan hunian tetap (huntap) yang disiapkan telah berstatus clean and clear serta aman untuk ditempati.

“Pihak Buddha Suci tentu tidak mungkin membangun di lahan yang tidak aman. Mereka ingin bangunan itu bisa bertahan 20 sampai 30 tahun ke depan,” ujar Syukri melalui pesan WhatsApp, Rabu (4/3/2026).

Terkait isu bahwa warga yang menolak relokasi tidak akan menerima bantuan, Syukri menyebut kemungkinan terjadi kesalahpahaman. Ia menjelaskan, ketentuan tersebut bukan berasal dari Pemko, melainkan berdasarkan penyampaian dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menurutnya, rumah yang berada di zona merah berdasarkan hasil identifikasi geologi tidak diperbolehkan dibangun kembali apabila mengalami kerusakan berat atau hilang akibat bencana. Penetapan zona merah tersebut, lanjutnya, merupakan hasil kajian tim geologi, bukan kebijakan sepihak dari Pemko.

“Zona merah itu tidak boleh lagi dibangun. Karena itu pemerintah memberikan solusi berupa hunian tetap,” jelasnya.

Syukri menambahkan, bagi warga yang menolak pindah, Pemko hanya memfasilitasi surat pernyataan tidak akan menuntut hunian tetap. Ia juga menegaskan, bantuan huntap berasal dari organisasi Buddha Suci, bukan dari anggaran Pemko.

Sementara itu, bantuan stimulan rumah rusak berat sebesar Rp60 juta dari BNPB disebut tidak diberikan kepada rumah yang berada di zona merah rawan bencana.

“Tidak mungkin negara memberikan bantuan untuk membangun kembali di lokasi yang berpotensi terdampak bencana. Kita harus mengantisipasi agar tidak ada korban ke depan,” pungkasnya. (benny)

 

 

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.