Jakarta, Sinata.id - Muhammad Jusuf Kalla, terkenal dengan sebutan Jusuf Kalla atau JK adalah sosok populer di Indonesia.
Pria berusia berusia 83 tahun, itu pernah dua kali menjabat wakil presiden. Pertama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) periode 2014-2019.
Kalla juga pernah menjadi wakil presiden di era Presiden Jokowi Widodo (Jokowi), periode 2004-2009.
Sebelum mencapai dua jabatan mentereng itu, Kalla juga pernah menduduki jabatan strategis di pemerintahan Megawati Soekarnoputri.
Kalla merupakan Politisi Senior di Partai Golkar. Pernah menjadi Ketua Umum Partai Golkar 2004-2009 dan merupakan Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), dan sederet organisasi kelas nasional.
Sejak tidak menduduki jabatan di pemerintahan, Kalla yang dikenal sebagai pengusaha asal Sulawesi Selatan tersebut, akhir-akhir ini muncul kembali di ruang publik.
Sekali muncul di panggung nasional, Kalla bikin kejutan dengan aksi kontroversinya dan memantik perhatian publik luas.
Dalam dua pekan terakhir, ada tiga isu yang dilontarkan dan aksi Kalla. Kenaikan BBM Pertama, Kalla meminta pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM.
Alasan dia, demi menekan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta mengendalikan pertumbuhan utang negara.
Kalla berbicara di kediamannya, di Jakarta Selatan pada Minggu (5/4/2026).
Kalla menilai beban subsidi energi, khususnya BBM, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pembengkakan defisit anggaran.
Disebutnya, lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel turut memberi tekanan besar terhadap APBN Indonesia.
Dalam situasi tersebut, banyak negara memilih melakukan penghematan energi guna mengantisipasi potensi krisis dalam negeri.
JK mengingatkan, jika pemerintah tetap mempertahankan subsidi di tengah kenaikan harga global, maka konsekuensinya adalah peningkatan utang yang justru lebih berisiko dalam jangka panjang.
Ia berpandangan, kenaikan utang justru lebih berbahaya dalam jangka panjang. Pada akhirnya, seluruh masyarakat Indonesia akan merasakan dampaknya.
Kalla tak menampik kebijakan kenaikan harga BBM berpotensi memicu penolakan publik pada tahap awal.
Namun, berdasarkan pengalamannya, respons masyarakat sangat bergantung pada cara pemerintah dalam menyampaikan kebijakan tersebut. Laporkan Rismon Kedua, Kalla merespons tuduhan bahwa dirinya ikut mendanai Roy Suryo cs dalam menggaungkan ijazah palsu Presiden RI ke-7 Jokowi.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.