MENU
Kasih yang Tidak Berkesudahan: Salib Sebagai Wujud Penebusan
WA FB
Regional

Kasih yang Tidak Berkesudahan: Salib Sebagai Wujud Penebusan

R Editor : Redaksi Sinata | 20 Apr 2025 | 21:46 WIB
Kasih yang Tidak Berkesudahan: Salib Sebagai Wujud Penebusan
Selamat Paskah dari: St Ferry SP Sinamo, SH, MH, CPM, CPArb & Ny St. Ferry Hennawati Saragih, SP.

Oleh: St. Ferry SP Sinamo, SH, MH, CPM, CPArb

Sinata.id - Bagi umat Kristen, Paskah adalah perayaan iman yang paling agung dan mendalam, karena menandai kemenangan Yesus Kristus atas dosa dan maut melalui kebangkitan-Nya dari kematian. Salib Sebagai Wujud Penebusan Paskah bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan inti dari keselamatan yang dijanjikan Allah dalam Alkitab. Perayaan ini berakar dari tradisi Yahudi "Pesach" yang memperingati keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir, namun dalam terang Perjanjian Baru, maknanya diperluas: Yesus, Anak Domba Allah, menjadi korban Paskah yang sejati (1 Korintus 5:7), menggenapi nubuatan dan memberikan hidup kekal bagi semua yang percaya kepada-Nya.

Paskah pertama kali dirayakan oleh Gereja mula-mula sebagai momen sukacita atas kebangkitan Kristus pada hari ketiga setelah penyaliban-Nya, dan sejak saat itu, menjadi puncak kalender liturgi Kristen.

Pendahuluan

Penderitaan Tuhan Yesus Kristus menjelang dan saat penyaliban merupakan inti dari karya penebusan manusia. Melalui Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, kita melihat bukti kasih Allah yang tidak berkesudahan.

Inilah kasih yang rela mengorbankan diri demi menyelamatkan umat manusia. Salib bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi menjadi dasar iman, harapan, dan kasih bagi seluruh umat percaya.

I. Rangkaian Penderitaan Tuhan Yesus Kristus

1. Doa di Taman Getsemani (Luk 22:39–46)

Yesus berdoa dalam kesedihan dan kegelisahan yang dalam, bahkan peluh-Nya seperti darah. Ini menggambarkan tekanan rohani dan emosional yang amat berat. Dalam momen ini, Yesus menunjukkan ketaatan mutlak kepada kehendak Bapa.

2. Pengkhianatan oleh Yudas (Mat 26:47–50)

Dengan ciuman, Yudas menyerahkan Yesus kepada para serdadu. Sebuah pengkhianatan yang datang dari orang terdekat, menunjukkan betapa Yesus benar-benar merasakan luka hati seorang manusia.

3. Penangkapan dan Penahanan

Yesus ditangkap, dibawa ke hadapan Imam Besar Kayafas, dan diadili secara tidak adil dengan tuduhan palsu. Dia diam saat difitnah, sebagai lambang kesabaran dan kerendahan hati.

4. Dihina dan Dianiaya

Yesus dipukul, diludahi, dimahkotai duri, dan dipakaikan jubah ungu sebagai ejekan atas klaim-Nya sebagai Raja (Mat 27:29–31). Ia dihina tanpa membalas, menggenapi nubuat dalam Yesaya 53:3-7.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.