oleh: Anna Martyna Sinamo* Keputusan penting diambil dalam rapat koordinasi Forkopimda Kabupaten Pakpak Bharat bersama tokoh adat suku Pakpak terkait polemik penamaan Batalyon 908 dan 906 yang bermarkas di Kabupaten Pakpak Bharat.
Dua batalyon yang sebelumnya dikenal dengan nama Gaja Dompak dan Sanalenggam akhirnya resmi diganti menjadi: Batalyon 908 PERTAKI dengan simbol senjata ANDAR dan Batalyon 906 PAKALIMA dengan simbol senjata LENGGER.
Perubahan nama ini menjadi momentum penting dalam pemulihan memori kolektif suku Pakpak, sekaligus penegasan bahwa penghormatan terhadap kearifan lokal merupakan bagian dari kedaulatan Tanoh Pakpak.
Makna Pertaki dan Pakalima dalam Adat Pakpak
Dalam tradisi Pakpak, Pertaki adalah sosok pemimpin adat atau raja kampung (lebbuh) yang memiliki peran multidimensi.
Ia adalah pengayom, penjaga adat, penegak keamanan, sekaligus sumber pendidikan moral bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan pepatah Pakpak: “Bana Bilalang Bana Biruru, Bana Lubalang Bana Guru.” (Dimana ada pemimpin, di situ ada pengayom; dimana ada penjaga, di situ ada guru.)
Sementara itu, Pakalima merupakan pembantu utama Pertaki yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban lebbuh.
Pakalima bekerja berdampingan dengan Pertaki dalam memastikan harmoni sosial tetap terjaga dan melindungi masyarakat dari ancaman luar.
Dengan menggunakan nama adat ini, dua batalyon tersebut kini membawa identitas lokal dan semangat kedaerahan yang selaras dengan sejarah suku Pakpak.
Luka Kolektif dari Nama Gaja Dompak dan Sanalenggam
Penolakan terhadap nama lama—Gaja Dompak dan Sanalenggam—bukan tanpa alasan. Bagi masyarakat Pakpak, kedua nama tersebut lekat dengan memori kelam masa Pemberontakan PRRI 1957–1958.
Di Tanoh Pakpak, pasukan pimpinan Kolonel Simbolon yang mengusung nama Gaja Dompak dan bersenjatakan Sanalenggam diduga melakukan kekerasan luas terhadap warga Pakpak.
Banyak keluarga kehilangan anggota, sebagian lainnya terpaksa: menyembunyikan identitas, pindah marga ke suku lain seperti Karo, Toba, dan Simalungun, bahkan menghilangkan marga mereka sendiri demi keselamatan.
Kisah ini masih hidup dalam ingatan masyarakat hingga kini, terutama melalui saksi hidup seperti H. M. Daud Berutu, MBA (80-an tahun).
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.